Seru, Mahasiswa Debat Mengenai NII

Published on
By

Tiga mahasiswa di sisi kiri panggung adalah Yenita Dwi Nurseha, Dian Rahma Latifa Hayun dan Eva Yuliani. "Ladies and gentleman, kami percaya bahwa timbulnya kerusuhan NII disebabkan oleh kegagalan Kementerian Agama (Ministry of Religion)," ungkap Yenita sebagai pembicara pertama.

Menurut mereka, kementerian mereka telah gagal dalam menghukum kelompok-kelompok pemberontak agama. Selama itu, di Indonesia telah banyak grup tersebut, namun hampir tidak ada tindakan yang bisa menghilangkan mereka.

Sementara tiga mahasiswa di sisi seberang mereka berbeda pendapat. Menurut tim bernama 001-zero ini, permasalahan NII disebebkan kurangnya pemahaman orang akan agamanya sendiri. Ini membuat mereka mudah dipengaruhi oleh gerakan-gerakan ekstremis semacam NII.

"Kementerian Agama tidak gagal, mereka sudah memberikan sanksi. Tapi polisi gagal melaksanakannya," papar Langgeng Widodo. Ia mewakili kelompoknya yang terdiri dari dua orang lagi, yaitu Rara Indah Permatasari dan Fahmi Rizal. Semuanya mahasiswa PENS-ITS.

Inilah ajang final English Debate Competition (EDC). Dua tim inilah yang berhasil mengalahkan hampir 30 tim lainnya untuk bisa tampil di atas panggung PIMITS.

Menurut ketua panitia, Julia Carolina Daud, tahun ini peminat EDC tak kalah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun memang tahun ini peserta dibatasi. "Hanya dibolehkan tiga tim dari setiap jurusan," ujarnya.

Peraturan ini diadakan untuk membuat pertandingan lebih fair. Karena tahun lalu, ada beberapa jurusan yang mengirim sejumlah lima tim. Namun tahun ini, kualifikasi peserta tidak dibatasi.

Julia melanjutkan, bahwa tahun ini terdapat debaters yang memang sudah ahli dan ada pula yang masih beginners. Sementara tahun lalu yang bertanding dikhususkan pada beginners. "Kali ini kami melihat ada peningkatan kualitas dari para debaters," ucap mahasiswi Sistem Informasi angkatan 2009 ini. Para pemenang EDC diumumkan pada penutupan PIMITS, Kamis (5/5). (lis/niv)

×