Dalam penyaringan tersebut, tes pertama adalah psikologi dan kemampuan berbahasa Ingris para peserta. Seleksi di tahap ini diikuti sedikitnya oleh 157 peserta untuk calon tenaga kependidikan dan 103 peserta untuk calon dosen. Dari jumlah itu, panitia pada akhirnya mendapatkan 112 peserta untuk tenaga kependidikan dan 63 orang untuk dosen yang lolos masuk pada tes tahap kedua.
Untuk tes tahap kedua khusus ditujukan untuk kalangan dosen, yang digelar di jurusan pilihan masing-masing peserta. Di sana, mereka diberikan tes yang meliputi tes tulis bidang studi, tes wawancara, dan praktik mengajar langsung di kelas. Hal itu langsung diawasi oleh pihak jurusan masing-masing.
Sedangkan untuk materi yang diujikan bagi kalangan tenaga kependidikan hanya dilakukan di gedung Rektorat serta Biro Umum ITS. Selanjutnya, para peserta juga melalui dua jenis seleksi lagi, yakni tes wawancara dan tes praktik. Dalam tes wawancara secara garis besar menyoal alasan dan motivasi para peserta mengikuti seleksi.
Selain itu, keahlian di bidang masing-masing para peserta turut diuji dalam tes praktik. Misalkan dari lulusan sarjana komputer, maka pastinya minimal bisa membuat program di hadapan para penilai. Kuota untuk jumlah pegawai baru yang bisa diterima pun berbeda sesuai dengan perhitungan standar student-staff rasio masing-masing.
Yakni jumlah standar perbandingan dosen, staf, dan mahasiswa di jurusan tersebut. Sebab, secara langsung jumlah tersebut mau tak mau akan berdampak pada proses pelayanannya. Maka tak heran bila pos pegawai baru baik untuk kalangan tenaga kependidikan dan dosen lebih banyak tersebar di FMIPA, FTI, FTSP dan Biro Umum ITS. Selain karena jumlah jurusannya yang banyak, mahasiswa dan pelayanan yang diperlukan juga relatif tinggi. (*)