Saya Rindu Engkau Berpidato Seperti Itu Sebagai Presiden

Published on
By

”Saya akan berdiri didepan untuk menghadapi masalah ini”

Kalimat tersebut benar-benar berenergi. Terasa aura dan semangatnya kepada para pendengar. Terlukiskan seorang Bapak yang berada digaris depan untuk menyelesaikan badai permasalahan rumah tangganya. Sungguh sangat luar biasa. Namun, saya lebih merindukan kalimat dan energi itu keluar ketika satu per satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) disiksa dan hilang nyawanya.

Membayangkan seorang bapak bangsa, orang nomor satu di Indonesia berdiri di barisan terdepan untuk menyelesaikan permasalahan TKI walau ternyata lebih terpilih air mata daripada kalimat heroik tersebut.

”Nila setitik rusak sebelanga”

”Hanya karena sebagian kecil kader, jutaan kader dirugikan”

Dua kalimat tersebut disampaikan dengan kuat dan benar-benar tegas. Sangat terlihat keinginan seorang Bapak yang berusaha menjaga martabat rumah tangganya. Namun saya rindu orang yang dipercaya memimpin Indonesia untuk yang kali keduanya ini mengatakan kalimat tersebut sebagai seorang Presiden dengan mengganti kata kader menjadi rakyat Indonesia.

”Hanya karena sebagian rakyat Indonesia, jutaan rakyat Indonesia dirugikan”

Begitulah kiranya kalimat yang saya rindukan. Kalimat yang memiliki kekuatan dan ketegasan yang sama yang ditujukan kepada para koruptor, dan kepada mafia-mafia elit di negeri ini. Saya yakin tidak hanya jutaan bahkan dapat mencapai ratusan rakyat Indonesia yang tenang dan tentram hatinya lantaran presidennya tegas dan lugas memerangi korupsi.

”Saudara Nazaruddin kembalilah ke Indonesia”

Kalimat tersebut begitu lembut dituturkan. Bagaikan seorang Bapak yang memohon putranya kembali ke rumah. Namun, sekali lagi, saya merindukan kalimat tersebut terucap oleh seorang Presiden bukan seorang Dewan Pembina Partai. Seorang Presiden yang menyebutkan satu per satu nama-nama anaknya (baca: rakyat Indonesia) yang diduga korupsi yang kini tinggal bebas di luar negeri.

”Salahnya besar hukuman berat, salahnya sedikit hukuman kecil”

Kalimat yang membuat dahi ini berkerut dan bertanya. Benarkah? Lalu apakah itu artinya maling ayam yang dilakukan oleh dua anak berusia 13 tahun, dibandingkan orang yang korupsi ratusan atau bahkan miliaran juta yang justru dihukum lebih rendah? Atau dengan koruptor yang dihukum penjara sama seperti pencuri ayam tersebut? Kalimat tadi benar-benar mebuat kepala saya geleng-geleng dan mencoba berucap amin sebagai tanda doa.

”Saya mencintai kader Partai Demokrat sebagaimana saya mencintai rakyat Indonesia”

Sontak mendengar kalimat ini air mata menetes. Timbul rasa cemburu yang sangat dalam, terasa terluka hati ini akan kalimat tersebut. Saya sebagai rakyat Indonesia tidak pernah mendapat pidato yang begitu menggebu dan penuh semangat dari Bapak rakyat Indonesia, Presiden, sedangkan anggota partainya mendapatinya.

Saya sebagai rakyat Indonesia lebih sering mendengar keluh kesah dari kepala negara ini daripada kalimat optimisme penuh ketegasan dan keberanian, sedangkan anggota partainya mendapatkannya. Sungguh saya sangat cemburu mendengar kalimat tersebut.

Nur Ihsan Robbiyanto
Mahasiswa Teknik Lingkungan ITS
Angkatan 2008

×