Saxion University Sosialisasikan Double Degree di Arsitektur ITS

Published on
By

Pihak Saxion University pun datang ke Jurusan Arsitektur ITS dan menggelar sosialisasi, Selasa (9/11) guna mensukseskan pogram kerja sama tersebut. Pada kesempatan ini, dijelaskan sejumlah hal terkait program double degree yang kini tengah dilangsungkan oleh ITS dan Saxion University itu.

”Mahasiswa program ini akan menjalani studi selama tiga tahun di ITS, dan sisanya selama satu tahun akan dilaksanakan di Saxion University,” jelas Hank Blocklan, perwakilan Saxion University. Blocklan juga menjelaskan bahwa waktu setahun itu memang diperuntukkan guna menyusun tugas akhir mahasiswa.

Tak hanya itu, hal berbeda yang ditawarkan program ini adalah terbukanya kesempatan yang besar bagi lulusan untuk dapat bekerja di Belanda. ”Lulusan akan mendapatkan spesial visa selama satu tahun setelah lulus, visa itu dapat digunakan untuk mencari kerja di Belanda,” terang Blocklan.

Salah satu persyaratan agar dapat mengikuti program ini, mahasiswa diharuskan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) lebih dari tiga. Selain itu mahasiswa juga harus menyertakan nilai TOEFL tak kurang dari 550.

Keseluruhan biaya yang dibutuhkan untuk mengkuti program ini selama satu tahun berkisar 13.280 Euro. Jumlah itu termasuk biaya pendidikan, biaya hidup, visa, dan transportasi. Namun, angka itu masih bisa berkurang karena terdapat sejumlah program beasiswa yang ditawarkan, baik oleh Saxion University maupun Dikti.

Saxion Top Talent Scholarship misalnya, melalui program ini mahasiswa yang memiliki nilai TOEFL lebih dari 575 akan mendapatkan bantuan biaya pendidikan sebesar 6000 Euro. Sedangkan dari Dikti, terdapat pula Program Beasiswa Unggulan yang nilai beasiswanya mencapai 3000 Euro. ”Tak hanya itu, di Belanda mahasiswa juga dapat bekerja part time untuk membantu masalah keungan,” tambah Blocklan.

Turut hadir dalam sosialisasi ini lulusan program double degree Arsitrektur ITS-Saxion, Adibah Nurul. Perempuan berjilbab ini bercerita seputar pengalamannya selama menempuh studi di Belanda. ”Pokoknya harus belajar mandiri selama di Belanda, tapi tenang aja kok banyak orang Indonesia yang ada di sana,” tuturnya. (ald/fi)

×