Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, Presiden RI Dorong Kampus Perkuat Kemandirian Bangsa

Published on
By
Gambar Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia tengah memaparkan arahan dalam sarasehan kebangsaan KSTI 2026
Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia tengah memaparkan arahan dalam sarasehan kebangsaan KSTI 2026

Kampus ITS, ITS News — Perguruan tinggi bukan sekadar tempat kuliah, riset, atau mengejar publikasi, melainkan juga menjadi motor penggerak lahirnya solusi nyata bagi berbagai persoalan bangsa. Pesan tersebut ditegaskan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di hadapan rektor, guru besar, akademisi, dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”, Presiden RI mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menyatukan langkah membangun Indonesia yang lebih maju, berdaulat, adil, dan bermartabat. Menurutnya, tujuan utama pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan seluruh rakyat dapat menikmati kehidupan yang lebih layak.

Arahan Presiden RI kepada Kampus
Dalam arahannya, Presiden RI menilai bahwa guru besar, ilmuwan, peneliti, dan akademisi merupakan aset  terbaik bangsa yang memiliki kapasitas untuk melahirkan gagasan besar dalam menjawab berbagai tantangan nasional. Maka dari itu, perguruan tinggi harus menghasilkan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan berkontribusi dalam pembangunan nasional. 

Lebih lanjut, Presiden RI menilai penguasaan sains dan teknologi menjadi fondasi penting dalam memperkuat sektor pangan, pertanian, energi, manufaktur, hingga industri nasional. Dalam hal ini, Indonesia harus mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki melalui pengembangan teknologi agar dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. 

Selain itu, Presiden RI pun mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan nasional. Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, kolaborasi antarpemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan nasional, mulai dari aspek pangan, energi, industri, hingga penguasaan teknologi. 

Visi Menteri ESDM RI untuk Negeri
Sejalan dengan pesan Presiden RI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia memaparkan berbagai strategi pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Bahlil menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal luar biasa berupa minyak, gas bumi, batu bara, nikel, panas bumi, hingga energi baru terbarukan. “Namun, kekayaan tersebut tak boleh berhenti sebagai komoditas mentah yang dinikmati negara lain,” tegasnya. 

Bahlil menjelaskan bahwa hilirisasi menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah SDA, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Salah satu strateginya yaitu pengembangan B50, pencampuran solar dengan bahan bakar nabati, berbasis crude palm oil (CPO). Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor solar, memperkuat industri sawit nasional, dan meningkatkan kesejahteraan petani. 

Tak berhenti di situ, pemerintah pun menyiapkan program E20 berbasis etanol dari tebu, singkong, dan jagung untuk menekan impor bensin yang masih cukup tinggi. Melalui kebijakan tersebut, sektor pertanian diharapkan tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Persoalan impor LPG turut menjadi perhatian Menteri ESDM RI tersebut karena saat ini pemerintah sedang mendorong pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dan  perluasan jaringan gas sebagai alternatif yang lebih efisien. Menurut Bahlil, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dengan memanfaatkan potensi gas domestik yang melimpah. 

Meski mendorong transformasi energi, pemerintah tetap menegaskan komitmennya menjaga keberpihakan kepada masyarakat. Subsidi energi tetap dipertahankan agar kelompok berpenghasilan rendah terlindungi dari gejolak harga energi dunia. Sementara itu, transisi menuju energi bersih juga akan terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan industri, infrastruktur, kondisi ekonomi, dan kepentingan nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil mengajak perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam pembangunan sektor energi melalui riset terapan, inovasi teknologi, audit energi, hingga pengembangan solusi berbasis data yang dapat diimplementasikan secara langsung. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam mewujudkan transformasi energi Indonesia secara berkelanjutan. 

Gambar Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD (kanan) berjabat tangan dengan Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD (kanan) berjabat tangan dengan Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia

Wujud Komitmen Kampus Teknologi
Menanggapi berbagai arahan tersebut, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menegaskan bahwa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) siap memperkuat perannya sebagai kampus teknologi yang menghadirkan inovasi berdampak bagi bangsa. Menurutnya, pesan yang disampaikan Presiden maupun Menteri ESDM semakin menegaskan pentingnya penguasaan sains, teknologi, dan inovasi dalam mendukung kemandirian ekonomi, industri, serta energi nasional. 

Sebagai delegasi ITS, Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan dan Sarana Prasarana ITS  Dr Ir Machsus ST MT mengungkapkan bahwa arahan Presiden RI dan paparan Menteri ESDM RI ini sebagai panggilan untuk Kampus Pahlawan. Selain itu, seruan tersebut menjadi peluang ITS untuk memperkuat kontribusi kampus teknologi dalam menghadirkan inovasi. ITS siap turut berperan menghasilkan solusi yang tangguh, berdampak, dan mendunia yang relevan bagi kemandirian bangsa Indonesia. 

Melalui Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, semakin ditegaskan bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan kontribusi aktif perguruan tinggi, industri, peneliti, dan masyarakat. Dengan kolaborasi tersebut, kampus diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya inovasi yang memperkuat daya saing nasional sekaligus mewujudkan Indonesia yang semakin mandiri dan berkelanjutan. (*)

 

Kontributor Liputan: Machsus
Redaktur: Mohammad Febryan Khamim

×