Mengangkat tema Revitalisasi Budaya Maritim Kota Surabaya, acara yang berlangsung di lobi Gedung Rektorat ITS tersebut mengudara secara langsung pada gelombang 93.8 FM Suara Muslim Surabaya. Sedikitnya, acara itu menghadirkan tiga pembicara yaitu Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, Rektor ITS, Dr Ir Wahyudi MSc pakar maritim Indonesia, dan Dwi Eko Lokononto, Pimpinan Redaksi Berita jatim.com.
Dalam paparannya, Joni mengungkapkan dengan fakta 70 persen wilayah Indonesia merupakan kepulauan, maka sudah seharusnya Indonesia menjadi pusat pengembangan ilmu kemaritiman dan teknik kelautan. "Dengan fokus pemerintahan sekarang menjadi kesempatan besar bagi ITS untuk lebih berperan bagi Indonesia," ujar Guru Besar Jurusan Teknik Lingkungan ITS ini.
Pada bidang kelautan, lanjutnya, ITS cukup banyak menghasilkan produk-produk yang membantu masyarakat. Diantaranya pengembangan teknologi kapal perang maupun kapal nelayan, bangunan lepas pantai, dan pemanfaatan energi dari gelombang laut.
Selain itu, ITS juga melakukan kerja sama dengan Jerman untuk mengembangkan potensi dari pulau-pulau kecil, salah satunya di Poteran, Madura. "Kita ingin Indonesia menjadi negara maritim tetapi para nelayan menjadi terpinggirkan. Kita ingin para nelayan mampu mengembangkan wilayahnya sendiri dengan mengelola potensi laut yang begitu banyak," tambah Joni.
Ia bertutur ada dua hal yang harus diperhatikan menyoal budaya maritim. Pertama, kita harus mengerti tentang bahasa alam itu sendiri, apa yang menjadi keteraturan di dalam alam, dan yang kedua adalah apa yang harus dilakukan atau kebijakan orientasi yang dikembangkan dalam menjawab gejala-gejala bahasa alam itu. Diantaranya adalah aspek pendidikan. "Bagaimana membuat siswa agar mampu memahami betapa pentingnya maritim tersebut dan bagaimana sikap pemerintah menyikapi hal tersebut agar tidak simpang siur," terangnya.
Meski proyek maritim banyak dibiayai oleh investor, menurutnya program poros maritim dunia erat kaitannya dengan nasib nelayan kaum pesisir. "Jangan sampai tol laut jadi dibangun tetapi nelayan menjadi terpinggirkan. Hal tersebut harus menjadi perhatian pemerintah karena nelayan adalah tulang punggung yang harus disejahterakan," sambung Joni.
Sementara itu, Dr Ir Wahyudi MSc menjelaskan Surabaya sudah sedemikian rupa membangun citranya sebagai kota maritim. Memiliki pelabuhan terbesar nomor dua di Indonesia, pangkalan militer, ITS, pantai Kenjeran, taman mangrove, dan PT. PAL. Bisa dikatakan sudah sejak lama Surabaya memelihara budaya maritim. ”Selain itu, upaya walikota Surabaya memanfaatkan kembali sungai-sungai sebagai sarana transportasi adalah salah satu bentuk revitalisasi budaya maritim,” tutup Wahyudi. (mei/man)