Semuanya serba sederhana. Tidak ada booklet nyanyian, tidak ada panggung dengan tatanan lighting mewah. Para pengunjung hanya disambut oleh cahaya lilin yang menghantarkan mereka hingga auditorium, tempat berlangsungnya konser.
Konser tersebut memang khusus diperuntukkan pada semua pihak yang telah mendukung mereka menjelang festival di Busan, Korea Selatan, satu bulan yang lalu. Terutama kepada para orang tua mahasiswa. Karena sebagian besar biaya perjalanan ditanggung secara pribadi. Walaupun biaya tersebut, bukanlah jumlah yang kecil bagi sebagian anggota PSM ITS.
Juga sebagai rasa syukur atas kemenangan mereka meraih gold medal in mixed and ethnic choir category dalam Busan Choral Festival and Competition 2010. Malam itu, PSM ITS tampil menawan. Lagu-lagu yang mereka bawakan mengandung suasana berbeda meskipun sudah pernah ditampilkan sebelumnya.
Acara dibuka dengan penampilan dari Fauzi Bachtiar. Suaranya syahdu menceritakan bait-bait Danau Maninjau. The Long Day Closes dan When You Believe menyusul kemudian. Dua lagu tersebut mengungkapkan perjalanan panjang PSM ITS hingga meraih juara pada festival internasional tersebut.
Tidak cukup sampai disitu, para penonton juga dihibur dengan nyaian bernuansa etnik. Lagu pertama adalah Arira. Lagu ini bercerita tentang dua sejoli yang berpisah karena alasan tugas negara.
Arira ini dinyanyikan, sebagai suatu pengharapan agar anggota PSM tidak saling lupa dan akan bersatu kembali suatu saat nanti. Dilanjutkan dengan Ugo-Ugo dan Ahtol Porash. Tidak ketinggalan lagu andalan mereka, Jager, yang berasal dari Bali.
Ditemui setelah acara, dirigen Fritz Bosar Simangunsong bercerita mengenai pengalaman saat di Busan. Menurutnya, mereka sempat pesimis untuk menang. “Ketika datang, kami melewati tiga atau empat grup lain yang sedang pemanasan, kami sempat minder,†kenangnya.
Apalagi, lanjutnya, ketika berhadapan dengan tim dari Filipina, yang terkenal sudah sering memenangkan kejuaraan paduan suara internasional. Mereka juga sempat diremehkan oleh peserta lainnya. “Mungkin karena kami kecil-kecil ya, jadi seperti tidak dianggap oleh yang lain,†kata Fritz setengah bercanda.
Takdir berkata lain, PSM ITS berhasil keluar sebagai juara pertama. Sebuah video yang ditampilkan dalam Grateful Concert menunjukkan tangis bahagia mereka saat menerima hadiah di atas panggung.
Salah satu anggota PSM ITS, Melati Rahma Aziza, masih mengingat momen spesial tersebut. “Sebenarnya saya tidak menangis, tapi karena melihat teman-teman menangis, saya akhirnya ikut juga,†ujar gadis asal Madiun ini. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Tatkala konser selesai, para penyanyi langsung berhamburan menghampiri para hadirin. Salam, senyum dan ucapan terima kasih mereka bagikan kepada siapa saja dalam ruangan itu.
Fritz masih berharap besar untuk tim yang dibinanya itu. Ia berkata, lain kali akan mencoba untuk membawa mereka ke Eropa. “Di sana, PSM ITS pasti akan mengalami sebuah budaya yang berbeda,†ujar pria yang sudah berkali-kali menggelar pentas di mancanegara ini. (lis/m11/az)