Rasa Aman yang Semakin Abstrak bagi Perempuan

Published on
By
Potret mahasiswi ITS sebagai representasi perempuan yang berhak memperoleh rasa aman, kebebasan, dan penghormatan di lingkungan sekitar
Potret mahasiswi ITS sebagai representasi perempuan yang berhak memperoleh rasa aman, kebebasan, dan penghormatan di lingkungan sekitar

Kampus ITS, Opini — Perempuan selalu diajarkan untuk menjaga diri. Berpakaian dengan sopan, berbicara dengan hati-hati, pulang tidak terlalu malam, hingga membatasi cara mereka bersikap kepada orang lain. Seolah-olah, seluruh tanggung jawab atas rasa aman hanya dibebankan kepada perempuan seorang diri. Namun, kenyataan justru menunjukkan bahwa setelah mematuhi semua batasan itu, rasa aman tetap menjadi hal yang mewah.

Beberapa perempuan memilih bertahan karena merasa itu satu-satunya harapan yang tersisa. Sementara itu, sebagian lainnya memilih melawan karena mereka tahu bahwa rasa takut bukanlah kodrat yang harus diterima begitu saja. Sayangnya, keberanian untuk bersuara sering kali dibalas dengan keraguan, penghakiman, hingga normalisasi dari lingkungan sekitar.

Tidak sedikit masyarakat yang masih menganggap kasus kekerasan seksual sebagai sesuatu yang lumrah. Ada yang berkata bahwa semua akan baik-baik saja selama nama pelaku tidak disebutkan. Ada pula yang menganggap perilaku tidak pantas sebagai hal wajar dengan dalih begitulah laki-laki. Kalimat-kalimat menyangkal seperti itu mungkin terdengar sederhana, tanpa disadari telah membentuk budaya yang membuat korban kian terisolasi.

Potret perempuan yang menyuarakan keberanian untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan rasa aman serta hak atas dirinya di ruang publik (sumber: Freepik)
Potret perempuan yang menyuarakan keberanian untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan rasa aman serta hak atas dirinya di ruang publik (sumber: Freepik)

Ironisnya, tempat yang dianggap aman terkadang justru menjadi tempat paling menyakitkan. Lingkungan pertemanan, institusi pendidikan, bahkan ruang yang seharusnya memberikan perlindungan dapat berubah menjadi ruang yang melucuti rasa percaya diri dan harga diri perempuan. Pada akhirnya, banyak perempuan memilih diam. Bukan karena mereka menerima keadaan, melainkan karena takut tidak dipercaya oleh lingkungan sekitar.

Padahal, perempuan bukan hanya sosok yang terus-menerus dituntut untuk bertahan. Perempuan memiliki hak atas tubuhnya, hak untuk dihormati, serta hak untuk merasa aman tanpa syarat apa pun. Kemerdekaan atas diri sendiri bukanlah bentuk pemberontakan, melainkan hak dasar setiap manusia.

Karena itu, pembicaraan mengenai kekerasan seksual seharusnya tidak lagi berpusat pada bagaimana perempuan menjaga dirinya. Sudah saatnya masyarakat juga memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga batasannya masing-masing. Perempuan perlu memahami nilai dirinya, tetapi laki-laki juga harus memahami arti menghormati dan menjaga batas.

Rasa aman tidak seharusnya menjadi kemewahan bagi perempuan. Hak ini milik seluruh manusia tanpa pengecualian. Selama masyarakat masih menormalisasi pelecehan, maka selama itu pula rasa aman bagi perempuan hanya akan menjadi sesuatu yang terdengar dekat, tetapi terasa sangat abstrak. Rasa aman adalah hak seluruh manusia, tanpa pengecualian. (*)

 

Ditulis oleh:
Nabila Rahadatul Aisy Koestriyangrium
Departemen Sistem Informasi
Angkatan 2023
Reporter ITS Online

×