Raih Gelar Doktor dengan Robot Berkaki

Published on
By

Pria kelahiran Ujung Pandang 59 tahun lalu itu, dinyatakan lulus setelah mampu mempertahankan disertasinya dari pertanyaan dosen penyanggah. Pada sidang terbuka promosi doktor Jurusan Teknik Elektro ITS, ia mengangkat penelitian berjudul Behaviour Based Learning untuk Semi Autonomous Robot  Berkaki Lima.

Prihastono menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang rawan bencana alam, khususnya gempa bumi. Bencana tersebut dapat mengakibatkan korban yang tidak sedikit. Sehingga, diperlukan suatu metode evakuasi yang tepat bagi korban yang masih tertimbun.
Berawal dari permasalahan tersebut, Prihastono menciptakan robot yang dapat mengidentifikasi keberadaan korban bencana. ”Robot tersebut dapat membantu tim Search and Rescue (SAR) menentukan lokasi korban,” ungkap pria yang telah bercucu dua ini.
Robot tersebut terinspirasi dari bentuk hewan dengan nama ilmiah Phylum Echinodermata atau yang lebih dikenal bintang laut. Robot tersebut merupakan pengembangan dari robot berkaki empat yang sudah ada sebelumnya. ”Kali ini, saya melengkapi robot dengan kecerdasan buatan yaitu Fuzzy Q Learning yang digabungkan dengan Hierarchiecal Hybrid Coordination Node (HHCN),” ucap pria kelahiran 7 Januari 1954 ini.
Robot ini dapat melakukan navigasi yang cukup andal secara otonom. Keandalan tersebut di antaranya adalah wandering, obstacle avoidance, dan search target. Sehingga, ketika robot dikendalikan operator, jarak jangkauan maksimum untuk berkomunikasi data adalah 200 meter pada area terbuka dan 90 meter pada daerah tertutup. 
Sedangkan untuk komunikasi video, jarak jangkauan maksimumnya adalah 60 meter untuk daerah tebuka dan 40 meter untuk daerah tertutup. ”Ke depannya, saya menginginkan robot ini mampu memetakan daerah yang telah dilaluinya,” harap Prihastono. 
Di akhir sidang, pria yang juga merupakan staf pengajar di Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya ini memberi motivasi. Motivasi terbesarnya untuk melanjutkan kuliah adalah ingin memberi contoh terutama pada anak-anak, cucu-cucu, dan adik-adiknya. ”Kita belajar tidak ada batasnya, walaupun usia kita telah memasuki usia senja,” pungkasnya. (ady/fi)

×