
Kampus ITS, ITS News — Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Jawa Timur terus memperkuat sinergi riset untuk mendukung pembangunan daerah berbasis inovasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sosialisasi panduan riset kolaborasi antar PTN se-Jawa Timur melalui skema JATIM MELAJU yang digelar di Ruang Sidang Senat lantai 1 Gedung Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jumat (27/2).
Ketua Paguyuban Rektor PTN Jawa Timur Prof Dr Nurhasa MKes menegaskan bahwa JATIM MELAJU merupakan salah satu program Forum Paguyuban Rektor PTN Jawa Timur yang bertujuan memperkuat kolaborasi riset lintas kampus. Ia menilai sinergi tersebut menjadi penting di tengah situasi ketidakpastian. “Harapannya, seluruh hasil penelitian mampu memberikan solusi atas persoalan di Jawa Timur bahkan hingga tingkat nasional,” tutur Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan 15 PTN se-Jawa Timur yang tergabung dalam Forum Paguyuban Rektor Jawa Timur. Sosialisasi ini memaparkan mekanisme pengusulan proposal, skema pendanaan, sistem evaluasi, hingga strategi hilirisasi riset agar berdampak langsung bagi masyarakat dan pemerintah.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam menjawab persoalan pembangunan yang semakin kompleks. Ia mencontohkan bahwa Jawa Timur memiliki 38 kabupaten/kota dengan karakteristik dan persoalan yang beragam sehingga membutuhkan pendekatan riset yang terintegrasi. “Kolaborasi ini harus menghasilkan solusi konkret yang dapat dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Perwakilan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur Dr Andriyanto SH MKes mengapresiasi kolaborasi 15 PTN dalam skema JATIM MELAJU. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan daftar inventaris masalah pemerintah provinsi, jumlah persoalan di perangkat daerah kini telah mencapai lebih dari 600 isu strategis. “Hasil riset bukan gimik, tetapi harus benar-benar menjawab persoalan,” ujarnya mengingatkan.

Sementara itu, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany ST PhD menjelaskan bahwa skema JATIM MELAJU dirancang dalam bentuk konsorsium lintas PTN untuk memperkuat klaster keunggulan masing-masing kampus. Ia menegaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak hanya menargetkan luaran akademik, tetapi juga kebermanfaatan nyata bagi daerah. “Melalui konsorsium ini, riset diharapkan terintegrasi, terukur, dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Jawa Timur,” jelasnya.
Program JATIM MELAJU ini mengusung strategi kemitraan pentahelix yang melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), masyarakat, serta media guna menciptakan kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy. Fokus kajian diarahkan pada isu prioritas seperti kemiskinan, ketahanan pangan, pelayanan dasar, energi baru terbarukan, serta penguatan daya saing ekonomi.

Program JATIM MELAJU ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-1 terkait Tanpa Kemiskinan, poin ke-2 tentang Tanpa Kelaparan, serta poin ke-8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Selain itu juga poin ke-12 terkait Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan, serta poin ke-14 tentang Ekosistem Laut dan Lingkungan. (HUMAS ITS)
Reporter: Naila Zalfa Hamidah