Selama hampir 30 menit mengisi sesi ceramah, Bambang berpesan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di masyarakat. Narkoba pada awalnya merupakan zat yang digunakan untuk kepentingan riset dan kesehatan. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi penyalahgunaan yang bisa berdampak buruk pada kesehatan manusia.
Penyalahgunaan narkoba ini sudah berlangsung sejak masa perang dunia kedua. ”Pada waktu itu, narkoba jenis ekstasi digunakan tentara perang untuk dapat bekerja ekstra selama perang, namun sebenarnya itu bisa merusak tubuh mereka perlahan,” ungkap Bambang
Tindakan penyalahgunaan narkoba masih berlangsung hingga saat ini. Pada tahun 2010 ditemukan 2478 kasus di Indonesia. Jumlahnya semakin meningkat pada tahun 2011 yang mencapai angka 3039 kasus. ”Negara kita menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba, terutama untuk jenis ganja dan sabu-sabu,” terangnya.
Saat ini, sedikitnya terjadi 24 kasus setiap bulan. ”Menurut catatan kami, hampir setiap hari ada satu orang yang meninggal karena over dosis,” ungkap Bambang.
Kondisi ini tentunya tidak bisa diabaikan karena akan memberi ancaman kepada masyarakat. Terutama generasi muda yang sedang berkembang. Bambang menyampaikan pesan-pesannya yang menyatakan perang terhadap narkoba di masyarakat. ”Hendaknya kita jadikan momentum bulan ramadan ini untuk menjauhkan diri dari narkoba,” jelas Bambang.
Sementara itu, fakta menunjukkan, Surabaya merupakan salah satu tempat yang mulai rawan akan narkoba. Sejumlah 77 kasus ditemukan di antaranya merupakan penyalahgunaan narkoba oleh mahasiswa.
Bambang juga menunjukkan tempat produksi narkoba tidak jauh dari keseharian masyarakat. Beberapa produsen narkoba sempat tertangkap di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan beberapa kota lain di Jawa Timur.
Dalam hal ini pihak kepolisian tidak dapat menangkap semua kasus narkoba sendirian. ”Butuh dukungan masyarakat untuk melapor apabila menemukan adanya penyalahgunaan narkoba,”ungkap Bambang. (anl/fi)