Rifki Alvian, ketua panitia, menyebutkan, tema urban heritage sengaja diangkat untuk kembali memperkenalkan kawasan-kawasan peninggalan budaya di Surabaya kepada masyarakat. Menurutnya, kawasan-kawasan ini kini sudah mulai dilupakan. Lebih miris lagi, kawasan yang dulunya merupakan kebanggaan masyarakat kini berubah fungsi dan tidak terurus.
Rifki mencontohkan, kawasan Kembang Jepun dulunya merupakan pusat kegiatan masyarakat dan daerah perdagangan yang ramai. Tapi kini, kawasan ini mulai ditinggalkan. Gedung-gedung bersejarah yang berdiri sejak zaman penjajahan saat ini banyak yang beralih fugsi menjadi gudang. ”Kawasan ini harus dijaga agar tidak dilupakan,” katanya.
Walaupun begitu, Rifki masih bersyukur, gedung-gedung warisan kota di Surabaya masih dipertahankan bentuk aslinya. Ia membandingkan, gedung-gedung bersejarah di Kota Bandung dan Jakarta kini banyak yang dirombak dan dikomersilkan.
Padahal, menurut Rifki gedung-gedung di kawasan heritage harus dijaga keasliannya karena berfungsi sebagai saksi sejarah. ”Karena itulah, melalui Planopolis kami berupaya untuk membawa kembali kesadaran masyarakat tentang kawasan-kawasan bersejarah tersebut,” tutur mahasiswa asal Kediri, Jawa Timur ini.
Di akhir Maret nanti, Planopolis akan menggelar kegiatan bertajuk Amazing Race. Kegiatan ini merupakan bentuk penelusuran Kota Surabaya. Pesertanya tidak dibatasi untuk kalangan tertentu saja, melainkan dibuka untuk umum. Dalam kegiatan ini, peserta harus mencapai pos-pos tertentu yang tersebar di seluruh penjuru kota. ”Pos-posnya, ya itu tadi, kawasan-kawasan heritage di penjuru Surabaya,” jelas Rifki.
Pada kegiatan ini, peserta diminta untuk menelusuri kawasan-kawasan bersejarah seperti Kembang Jepun, Pintu air Jagir dan kawasan Ampel. Untuk mencapai tempat-tempat tersebut, mereka hanya diberikan uang transportasi terbatas dan tidak diperkenankan membawa kendaraan pribadi. ”Selama melakukan penelusuran, peserta bisa berinteraksi dengan masyarakat setempat,” ungkap Rifki.
Dibuka dengan Flashmob
Rangkaian kegiatan Planopolis dimulai dengan diadakannya kegiatan Carnival. Kegiatan yang dilaksanakan di Taman Bungkul ini langsung melibatkan partisipasi masyarakat di dalamnya. ”Di Carnival, kami mengadakan flashmob dan kuis sejarah kota,” ujar Rifki.
Rifki menceritakan, walaupun banyak masyarakat yang malu-malu mengikuti flashmob, namun tidak sedikit pula yang langsung berpartisipasi. ”Usai flashmob, kami langsung memberikan pertanyaan-pertanyaan sejarah kepada masyarakat yang berada di sana,” terang Rifki.
Selain Amazing Race dan Carnival, dalam Planopolis kali ini juga akan diadakan beberapa kegiatan lain yakni, Plano Night dan Deseminasi Tugas Akhir. ”Kami berharap, rangkaian Planopolis ini bisa menjadi sumbangsih kami sebagai mahasiswa dalam melestarikan kawasan-kawasan bersejarah,” pungkas Rifki. (ram/esy)