Perluas Jejaring Internasional, ITS-Curtin University Geber Pameran Desain

Published on
By
Salah satu mahasiswa ITS yang berpartisipasi dalam pameran sedang mempresentasikan produk mainan tradisional dari limbah kaca
Salah satu mahasiswa ITS yang berpartisipasi dalam pameran sedang mempresentasikan produk mainan tradisional dari limbah kaca

Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menggencarkan kolaborasi internasional dari berbagai sisi. Kali ini, melalui Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (FDKBD) yang bekerja sama dengan Curtin University, Australia menggelar Pameran Desain Matters, Jumat (3/7).

Pameran sehari yang berlangsung di KOGU Space, Surabaya itu menjadi wadah bagi ITS dan mahasiswanya untuk menghasilkan karya desain berbasis upcycling. Melalui program Adjunct Professor, ITS menghadirkan akademisi Curtin University Dr Qassim Saad sebagai pengajar dan peneliti tamu selama enam bulan.

Salah satu hasil karya mahasiswa ITS yang berkolaborasi dengan Upject, Mojokerto berupa tas dan sandal dari sisa bahan konveksi jeans yang ikut dipamerkan
Salah satu hasil karya mahasiswa ITS yang berkolaborasi dengan Upject, Mojokerto berupa tas dan sandal dari sisa bahan konveksi jeans yang ikut dipamerkan

Program ini bertujuan memperluas wawasan global mahasiswa sekaligus memberikan pengalaman belajar langsung bersama akademisi tingkat global. Skema belajar dan mengajar ini membuat mahasiswa bisa mempelajari standar proses desain yang diterapkan secara internasional.

Pada pembukaan pameran, Dr Qassim Saad menjelaskan bahwa proyek pameran ini menjembatani antara praktik kerajinan dengan teknologi digital dalam proses desain. Menurutnya, hal tersebut membuktikan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan dalam suatu karya untuk memaksimalkan potensinya. “Integrasi antara teknologi dan sumber daya yang ada menghasilkan berbagai karya yang dapat bermanfaat,” ujarnya.

Sambutan pembukaan Pameran Desain Matters oleh Dekan FDKBD ITS Ellya Zulaikha ST MSn PhD
Sambutan pembukaan Pameran Desain Matters oleh Dekan FDKBD ITS Ellya Zulaikha ST MSn PhD

Sementara itu, Dekan FDKBD ITS Ellya Zulaikha ST MSn PhD mengungkapkan bahwa pameran ini lahir setelah enam bulan proses pembelajaran. Alumni S1 Desain Produk Industri ITS tersebut juga menambahkan, mahasiswa dalam kegiatan ini tidak hanya dari Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS, tetapi juga dari Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Departemen Manajemen Bisnis ITS. “Kolaborasi ini mengoptimalkan industri kerajinan upcycling melalui pendekatan digital dan strategi bisnis yang tepat,” imbuhnya.

Mahasiswa yang terlibat dalam proyek pameran ini juga dituntut untuk menjawab permasalahan limbah agar bisa diatasi dengan cara yang inovatif. Sebanyak 20 mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan observasi di berbagai wilayah guna melihat peluang pengembangan yang ada. Hasilnya, melalui observasi tersebut, sekelompok mahasiswa itu melihat peluang terhadap limbah kardus, kaca, konveksi, hingga kerang untuk dimanfaatkan sebagai produk inovatif.

Ellya menuturkan bahwa limbah-limbah tersebut akan dirancang menjadi sebuah karya oleh mahasiswa. Rancangan itu kemudian dikembangkan dengan kecerdasan buatan (AI) untuk melihat berbagai kemungkinan desain yang dibutuhkan masyarakat. “Kita memanfaatkan kecerdasan buatan ini bukan untuk menggantikan peran desainer, tetapi untuk memaksimalkan potensi dari sumber daya yang tersedia,” ujarnya.

Salah satu tim mahasiswa ITS mempresentasikan hasil pengolahan limbah kardus menjadi armatur lampu yang berkolaborasi dengan Dus Duk Duk
Salah satu tim mahasiswa ITS mempresentasikan hasil pengolahan limbah kardus menjadi armatur lampu yang berkolaborasi dengan Dus Duk Duk

Pameran ini juga menggandeng berbagai industri agar dapat dimanfaatkan limbahnya dan produk inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan oleh para pengrajinnya. Salah satu sektor kerajinan yang berkolaborasi adalah Dus Duk Duk yang dimanfaatkan limbah kardusnya oleh mahasiswa ITS untuk menjadi armatur lampu. Mahasiswa ITS mengamati bahwa armatur lampu yang dihasilkan dari kardus memiliki peluang untuk menjadi produk yang menjanjikan.

Hal serupa juga terjadi pada limbah kerang kapis Mekarsari, Situbondo. Mahasiswa menilai pola yang ada pada kerang tersebut dapat diolah menjadi salah satu bahan armatur lampu.

Sementara itu, kolaborasi mahasiswa dengan Upject, Mojokerto menghasilkan produk fesyen seperti tas dan sandal yang bisa menjadi nilai tambah. Terakhir, kolaborasi mahasiswa dengan Beads Flower, Jombang yang mengolah limbah manik-manik kaca menjadi mainan tradisional seperti yoyo, ludo dan dakon.

Dr Qassim Saad (kiri) dan Dekan FDKBD ITS Ellya Zulaikha ST MSn PhD (dua dari kiri) mengamati salah satu karya inovatif mahasiswa ITS berupa armatur lampu dari cangkang kerang kapis
Dr Qassim Saad (kiri) dan Dekan FDKBD ITS Ellya Zulaikha ST MSn PhD (dua dari kiri) mengamati salah satu karya inovatif mahasiswa ITS berupa armatur lampu dari cangkang kerang kapis

Lebih jauh, Ellya memandang pameran ini sebagai wadah untuk memperlihatkan proses suatu karya agar bisa berdampak dan bermanfaat. Oleh karena itu, Ellya menegaskan bahwa pameran yang dibuka untuk publik ini memiliki visi utama untuk menghasilkan produk berbasis upcycling hingga mewujudkan Indonesia zero waste. Upaya tersebut turut mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Sejalan hal tersebut, Pameran Desain Matters ini turut mencerminkan SDGs poin ke-8 terkait Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab, serta poin ke-17 yakni Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama ITS dan Curtin University. Selain itu, proses pembelajaran mahasiswa bersama dengan Dr Qassim Saad mencerminkan SDGs poin ke-4 terkait Pendidikan Berkualitas. (HUMAS ITS)

Reporter: Ahmad Maulana

×