Terbit pada
Rabu, 7 Oktober 2026

Surabaya, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperluas penerapan teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Berbasis Produk, Tim Departemen Teknik Instrumentasi Fakultas Vokasi ITS menerapkan sejumlah teknologi tepat guna untuk mendukung produktivitas dan memperkuat usaha Kelompok Bunda Bisa Medokan Semampir Timur, binaan LAZNAS Yatim Mandiri.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (13/9) tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan nyata dari mitra. Kelompok Bunda Bisa menjalankan usaha pangan secara bersama, dengan sejumlah tahapan produksi yang sebelumnya masih membutuhkan cukup banyak tenaga dan waktu. Karena itu, tim ITS memilih teknologi yang sederhana, mudah dioperasikan, serta dapat langsung digunakan dalam aktivitas produksi rutin.
Ketua Tim Abmas, Ir Putri Yeni Aisyah ST MT menjelaskan bahwa pendekatan program tidak hanya berfokus pada penyerahan peralatan. Menurutnya, pemilihan teknologi dilakukan setelah mempertimbangkan kesesuaiannya dengan aktivitas produksi dan kemampuan pengguna. “Kami ingin teknologi yang diberikan benar-benar digunakan dalam kegiatan sehari-hari, mudah dipahami, dan membantu pekerjaan kelompok agar lebih ringan dan efisien,” ujarnya.

Empat teknologi tepat guna yang diberikan meliputi mesin penggiling atau penumbuk singkong, mesin pengiris keripik, mesin parut serbaguna, serta impulse sealer. Masing-masing alat diarahkan untuk membantu tahapan yang berbeda dalam proses produksi, mulai dari pengolahan bahan, pengirisan, persiapan bumbu, hingga pengemasan produk.
Selain pengenalan fungsi alat, tim Abmas memberikan edukasi mengenai cara penggunaan, keselamatan, dan perawatan peralatan melalui penjelasan langsung serta media video. Materi penggunaan dibuat sederhana agar dapat diputar kembali oleh anggota kelompok saat membutuhkan panduan. Edukasi ini juga menekankan penggunaan alat sesuai fungsi, keamanan kelistrikan, kehati-hatian pada bagian yang bergerak atau pemanas, serta pembersihan peralatan setelah digunakan.
Kegiatan ini turut melibatkan 15 mahasiswa ITS dan 15 anggota Bunda Bisa dalam sesi interaktif. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator pendukung dalam diskusi kelompok, sementara anggota Bunda Bisa menyampaikan pengalaman, kendala produksi, serta kebutuhan pengembangan usaha. Interaksi ini diharapkan dapat membuat proses pendampingan lebih partisipatif dan tidak berhenti pada penyampaian materi secara satu arah.
Kolaborasi juga diperkuat oleh LAZNAS Yatim Mandiri melalui materi penguatan kapasitas ekonomi dan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dengan pembagian peran tersebut, teknologi dari ITS diharapkan berjalan beriringan dengan proses pendampingan usaha yang telah dilakukan Yatim Mandiri kepada Kelompok Bunda Bisa.
Koordinator Program Yatim Mandiri Surabaya, Hangger Susilo, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, sinergi dengan ITS memberikan nilai tambah bagi program pemberdayaan yang selama ini dijalankan Yatim Mandiri, khususnya melalui dukungan teknologi yang dapat langsung dimanfaatkan oleh kelompok binaan. Ke depan, kami berharap kerja sama tidak hanya berhenti pada program Bunda Bisa, tetapi juga dapat dikembangkan pada program-program pemberdayaan Yatim Mandiri lainnya yang membutuhkan dukungan teknologi dan keilmuan dari perguruan tinggi,” ungkapnya.

Pada akhir kegiatan, paket teknologi tepat guna diserahterimakan secara simbolis kepada Kelompok Bunda Bisa. Serah terima tersebut menjadi awal pemanfaatan peralatan dalam aktivitas produksi kelompok, sekaligus menegaskan pentingnya penggunaan dan perawatan alat secara bersama-sama agar manfaat teknologi dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Koordinator Bunda Bisa Medokan Semampir Timur, Bunda Syaiful, mengaku antusias dengan dukungan teknologi yang diberikan. Selama ini, sejumlah tahapan produksi masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar. “Dengan adanya mesin ini, pekerjaan menjadi lebih ringan, proses produksi lebih cepat, dan usaha Bunda Bisa akan semakin berkembang,” tuturnya.
Dua minggu setelah pelaksanaan kegiatan, tim melakukan monitoring awal melalui komunikasi dengan koordinator Bunda Bisa. Hasil monitoring menunjukkan respons yang positif. Proses produksi keripik slondok dilaporkan menjadi lebih cepat setelah penggunaan peralatan, sementara penggunaan impulse sealer membantu menghasilkan kemasan yang lebih rapi dan profesional.
Koordinator Bunda Bisa juga melaporkan adanya peningkatan penjualan sekitar 10 persen setelah implementasi program. Menurut mitra, peningkatan tersebut turut didukung oleh tampilan kemasan yang menjadi lebih profesional. Selain itu, pemanfaatan alat mulai berkembang di luar fungsi aslinya. Mesin penggiling yang digunakan untuk membantu pengolahan singkong juga dimanfaatkan untuk pembuatan bumbu pecel, sehingga membuka peluang diversifikasi produk bagi kelompok.
Putri menilai temuan tersebut sebagai indikasi awal bahwa teknologi sederhana dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika mudah diadaptasi oleh pengguna. Ia berharap alat yang diberikan tidak hanya digunakan untuk satu kebutuhan. “Ketika mitra mulai menemukan pemanfaatan lain yang relevan dengan usahanya, artinya teknologi tersebut benar-benar mulai menjadi bagian dari aktivitas produksi mereka,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, ITS berharap sinergi antara perguruan tinggi, lembaga sosial, mahasiswa, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan. Program tersebut sejalan dengan upaya penguatan produktivitas usaha masyarakat, pemberdayaan perempuan, serta penerapan teknologi tepat guna yang adaptif dan berkelanjutan. Hal ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. (*)