Memanfaatkan video conference, L’OREAL mengadakan sosialisasi tentang programnya, Women in Science. Program tersebut merupakan program pendanaan penelitian perempuan baik tingkat nasional maupun internasional.
Tak sendiri, L’OREAL juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Dikti) Indonesia serta UNESCO. Program ini akan memberikan dana sejumlah Rp 70 juta kepada empat orang peneliti perempuan terbaik yang mengirimkan proposal penelitiannya. Program tersebut difokuskan kepada tiga kegiatan utama. Yaitu L’OREAL-UNESCO Awards, L’OREAL-UNESCO Fellowship Internasional, dan L’OREAL-UNESCO Fellowship nasional.
L’OREAL-UNESCO Awards merupakan penghargaan bagi peneliti wanita yang berkompeten. Pengahargaan tersebut diberikan kepada satu orang wanita tiap benua. L’OREAL-UNESCO Fellowship Internasional diberikan kepada tiga wanita dari tiap benua yang menekankan pada kerjasama sains ditingkat Internasional.
Sedangkan kegiatan yang paling gencar dipromosikan siang itu adalah L’OREAL-UNESCO Fellowship Nasional. Yaitu kegiatan pendanaan kepada peneliti wanita Indonesia yang mengembangkan salah satu dari bidang penelitian material science atau life science.
Tanya jawab yang cukup antusias dilakukan dalam konferensi maya tersebut. Walaupun sempat mengalami gangguan komunikasi seperti suara yang kurang jelas terdengar, konferensi tersebut tetap berjalan dengan lancar. Tergambar jelas semangat peserta yang pada umumnya adalah dosen untuk melakukan riset sesuai dengan keahliannya masing-masing. Para juri yang terhubung langsung lewat video tersebut pun tak enggan untuk memberi penjelasan seputar program tersebut.
Salah satu dosen Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS mengaku pernah mengirimkan proposal penelitian di bidang life science. ”Saya sudah mengirimkan satu proposal tahun lalu, tapi gagal didanai,” ujar Sri Fatmawati MSc, dosen Jurusan Kimia ini.
Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat wanita yang akrab disapa Fatma ini untuk mengirimkan proposal lagi tahun ini. ”Sayangnya usia yang diperbolehkan mengikuti program maksimal 35 tahun, jadi banyak dosen yang tidak bisa mendaftar,” komentar Fatma soal adanya pembatasan usia untuk mengikuti program ini. (sha/fz)