Makalah bersampul hijau tergeletak di atas meja Ahmad. Judulnya, Kompetensi Pustakawan untuk Menunjang Perguruan Tinggi Bertaraf Internasional. Makalah Itulah yang dipaparkan Achmad dalam pemilihan Pustakawan Berprestasi di Jakarta, Senin (27/7) lalu. Ia juga mempresentasikan makalahnya dalam bahasa Inggris walaupun peserta lain menyampaikan presentasi dalam bahasa Indonesia.
Achmad menyebutkan dua poin yang harus dimiliki pustakawan yakni, profesional dan individu. Pustakawan profesional harus menguasai teknologi. "Teknologi semakin berkembang. Pustakawan dituntut bisa memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi dari luar," katanya.
Dalam praktik sehari-hari ketika ia masih menjabat kepala perpustakaan, ia memberikan pendidikan teknologi kepada tiap karyawan. "Semua karyawan harus bisa mengoperasikan komputer hingga punya website sendiri," tuturnya.
Untuk individu, pustakawan harus bisa melayani dengan sebaik-baiknya. Karena itu, sesuai makalahnya, ia mempresentasikan pencerahan pagi berbahasa Inggris setiap hari Senin. Bahkan, tiap pegawai perpustakaan kini diwajibkan untuk kursus bahasa Inggris setiap hari secara bergiliran. “Tiap pegawai harus meningkatkan pelayanannya, termasuk dalam berbahasa Inggris karena ITS menuju taraf internasional,†ujar Ahmad.
Ia yakin, salah satu poin yang membawa dirinya sebagai pemenang adalah konsepnya tentang Pencerahan Pagi. Forum sharing antar karyawan perpustakaan ITS. "Program tersebut kami lakukan sejak 2003," ungkap penggemar buku The Secret ini.
Waktunya tidak lama, cukup 20 menit mulai pukul 08.00. Seluruh karyawan Perpustakaan ITS yang berjumlah 43 orang itu berkumpul melingkar. Semua berhak sharing apa saja. "Tapi, sharing-nya harus positif dan memotivasi," ujar Achmad.
Pencerahan pagi sendiri terinspirasi dari filosofi sebuah teko. Kalau teko diisi teh, maka ketika dituang yang keluar adalah teh. “Begitu pula dengan pikiran, kalau selalu diisi hal yang positif, maka keluarnya juga hal yang positif,†ungkap pria kelahiran Kediri, 1 Januari 1951 ini.
Materi motivasi dalam sharing yang dilangsungkan di lobi depan perpustakaan itu tidak harus dari buku, tapi bisa juga dari kejadian sehari-hari. Mulai lingkup keluarga, kantor, hingga segala sesuatu yang ditemui.
Dalam pustakawan berprestasi, lulusan Loughborough University of Technology, Inggris, itu menyisihkan 40 pustakawan se-Indonesia. Pemenang kedua ditempati Endang Fatmawati SS SSos MSi dari Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, dan pemenang ketiga diraih Sri Rumani SH SIP MSi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). (nrf/bah)