Pakar Lingkungan Laut ITS Ungkap Kondisi Perairan Lokasi KM Virgo Tenggelam

Pakar Lingkungan Laut ITS Ungkap Kondisi Perairan Lokasi KM Virgo Tenggelam

Published on
By
Pakar lingkungan laut ITS Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng mengungkapkan kondisi perairan Kepulauan Masalembu di sekitar lokasi kejadian tenggelamnya KM Virgo Transport 8
Pakar lingkungan laut ITS Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng mengungkapkan kondisi perairan Kepulauan Masalembu di sekitar lokasi kejadian tenggelamnya KM Virgo Transport 8

Kampus ITS, ITS News — Pakar lingkungan laut dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng mengungkap kondisi perairan di sekitar lokasi insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Kondisi tersebut menunjukkan adanya angin tenggara sekitar 20 knot dengan hembusan hingga 30 knot serta gelombang signifikan mencapai 1,9–2,0 meter yang berpotensi mempengaruhi stabilitas kapal.

Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS tersebut menjelaskan, kondisi perairan di wilayah Kepulauan Masalembu ini tergolong dinamis karena dipengaruhi angin muson barat dan timur serta proses transformasi gelombang. Berdasarkan data yang tersedia, kondisi tersebut termasuk adverse marine conditions meskipun tidak masuk kategori cuaca ekstrem menurut klasifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Ketinggian gelombang yang mencapai 2 meter saat itu sangat mungkin membuat kapal tidak stabil,” terang lelaki yang akrab disapa Dhodot ini.

Data hidrometeorologi di sekitar lokasi menunjukkan kecepatan angin tenggara berada pada kisaran 18–20 knot sepanjang periode pengamatan. Hembusan angin tercatat mencapai 27–30 knot. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang signifikan yang meningkat dari sekitar 1,7 meter menjadi 2 meter.

Menurut Dhodot, kombinasi kondisi lingkungan tersebut perlu diperhatikan dalam melihat stabilitas kapal. “Selain tinggi gelombang, arah angin dan gelombang terhadap posisi kapal dapat menjadi faktor yang memengaruhi respons kapal ketika berlayar di perairan terbuka,” paparnya.

Data hidrometeorologi di sekitar lokasi yang ditemukan dan dikolaborasikan oleh Pakar lingkungan laut ITS Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng
Data hidrometeorologi di sekitar lokasi yang ditemukan dan dikolaborasikan oleh Pakar lingkungan laut ITS Dr Eng Kriyo Sambodho ST MEng

Ia menambahkan, periode gelombang di sekitar lokasi kejadian berada pada kisaran 7–8 detik dengan arah gelombang dari tenggara. Sementara itu, arus laut permukaan tercatat sekitar 1,0–1,2 knot yang bergerak ke arah barat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perairan di sekitar lokasi memiliki dinamika yang perlu diperhitungkan dalam aspek keselamatan pelayaran.

Apabila terdapat dugaan masuknya air ke dalam kapal, lulusan doktor dari Kyoto University, Jepang ini menyebut salah satu bagian yang perlu diperiksa adalah ramp door. Pintu berukuran besar tersebut berfungsi sebagai akses keluar masuk kendaraan dan muatan ke dalam kapal, sehingga kondisinya perlu menjadi bagian dari pemeriksaan teknis.

Selain kondisi laut, lanjutnya, kemungkinan kegagalan mesin juga tidak dapat diabaikan. Namun, dosen dari Laboratorium Hidrodinamika Lepas Pantai ITS ini juga menilai bahwa berbagai kemungkinan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan sebelum dilakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kejadian secara menyeluruh.

Ia juga mengingatkan agar tragedi KM Virgo Transport 8 tersebut tidak dikaitkan dengan sebutan Segitiga Bermuda Indonesia yang ditujukan untuk perairan Kepulauan Masalembu ini. “Penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Analisis kondisi laut tersebut menjadi bagian penting dalam memahami faktor keselamatan pelayaran. Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur yang mendukung pembangunan infrastruktur yang aman dan berkelanjutan. (HUMAS ITS)

×