Segala sesuatu untuk momen keramat ini haruslah dipersiapkan jauh sebelum hari H. Dari mulai pakaian yang akan dikenakan. Hingga kedatangan sanak famili bagi mahasiswa yang berasal dari luar kota. Tak apalah, sekali seumur hidup.
Euforia wisuda menelan biaya cukup tinggi. Biaya administrasi, penyewaan toga dan segala tetek bengeknya. Menurut pengalaman pribadi, untuk kebayakan mahasiswi, segala sesuatunya akan menjadi dua kali lebih heboh. Maklum, memang fitrahnya.
Kalau ditotal, biaya yang dikeluarkan hampir sama dengan uang SPP yang dibayarkan untuk satu semester.Tak apalah, Sekali seumur hidup.
Hari H-pun tiba, semua persiapan selesai sempurna. Toga dikenakan, seyum selalu tersungging di wajah. Bersalaman dengan dekan dan rektor, ijazah pun diterima. Selesai sudah upacara yudisium institut. Hari selanjutnya adalah hari-hari merdeka.
Inilah sekelumit gambaran mahasiswa dalam meyongsong momen keramatnya (baca: wisuda). Kebayakan mahasiswa, termasuk saya dulu, lebih mempersiapkan hal-hal simbolis. Entah kenapa, karena terlalu gembira atau serasa seperti mimpi, mahasiswa lupa akan esensi dari wisuda itu sendiri.
Yudisium hanyalah upacara simbolis pertanda sang mahasiswa telah berhasil merampungkan studinya. Inilah pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia. Gelar sarjana sangat diagungkan karena dapat mengangkat derajat sosial dalam strata masyarakat.
Bukankah, upacara wisuda berarti si mahasiswa akan menaggung beban lebih berat. Karena ia bukan lagi seorang mahasiswa yang disuapi oleh dosennya. Tetapi sebagai pemuda harapan bangsa, memikul tanggung jawab masa depan negeri dipundaknya.
Sayangnya, terdapat mahasiswa yang lupa akan hal tersebut. Berlomba mendapatkan gelar secepat mungkin, cara apapun ditempuh. Apatis menjadikannya tidak peduli pada lingkungan sekitar. Walau ilmu tidak sepenuhnya dipahami, yang penting nilai bagus sudah di tangan.
Namun, mahasiswa tidak sepenuhnya salah. Sikap tersebut secara tidak langsung disebabkan oleh kebudayaan masyarakat Indonesia yang masih haus akan gelar pendidikan. Dalam masyarakat indonesia, gelar pendidikan juga berarti kemapanan.
Pola pikir ini, menjadi positif bila diartikan sebagai tantangan dalam menghadapi globalisasi. Akan menjadi masalah bila gelar pendidikan terlalu diagungkan secara berlebihan. Banyak fakta berbicara, sesuatu yang berlebihan akan berdampak negatif.
Bagi Anda, mahasiswa yang akan atau mau diwisuda, mungkin perlu sedikit renungan. Apakah ilmu yang didapat akan cukup untuk bekal menjadi pemuda harapan bangsa. Jika menjadi harapan bangsa dirasa terlalu berat, mungkin cukup dengan pertanyaan, apakah ilmu yang didapat akan cukup untuk bertahan hidup mandiri selepas kuliah ?
Kampus adalah tempat yang ideal untuk membentuk karakter seseorang. Mahasiswa adalah status yang tidak hanya nyaman tapi juga menguntungkan. Tak terhitung lagi fasilitas yang disediakan oleh pihak kampus ataupun pemerintah untuk mengasah hardskill dan softskill para mahasiswa. Murah, malahan tidak sedikit yang diberikan secara cuma-cuma.
Belum lagi, dosen yang bersedia membagikan ilmu yang dipunya pada mahasiswa. Setelah lulus, saya baru mengetahui maksud dari sikap seram beberapa dosen. Tidak lain adalah mengader anda, para mahasiswanya untuk siap menghadapi dunia nyata (baca: dunia luar kampus).
Begitu penuh persaingan dan bisa dibilang kejam. Dosen dapat menjadi tempat tukar pikiran yang menyenangkan. Sepantasnya memang, para dosen mendapat gelar pahlawan tanpa tanda jasa.
Saya jadi tercetus ide untuk membuat sebuah pepatah. Omelan tanda sayang, diam tanda dibuang.
Kampus juga merupakan tempat untuk menyalurkan potensi yang dipunya. Organisasi dan Unit Kegiatan Mahasiswa menjadi tempat melatih softskill yang tidak didapat dalam materi perkuliahan. Maka pergunakanlah waktu dan fasilitas yang ada secara maksimal.
Jangan terburu-buru ingin diwisuda jika belum cukup mendapatkan bekal. Jangan juga terlena dengan status mahasiswa. Mengkambinghitamkan organisasi dan mencari sejuta alasan lainnya untuk menunda menyelesaikan Tugas Akhir (TA).
Waktu ideal untuk menempuh studi tergantung dari pribadi masing-masing mahasiswa. Anda sendiri yang akan menilai apakah bekal yang dipunya sudah cukup atau tidak. Karena, anda sendirilah yang mengetahui kebutuhan dan kemampuan diri anda.
Siapa berani jadi mahasiswa gila? tergantung pilihan anda. Mau lulus tepat waktu atau pada waktu yang tepat? Tergantung pilihan anda. Karena hidup adalah pilihan. Pastinya, jangan sampai begitu lulus kuliah, anda bingung apa yang selanjutnya harus dilakukan.
Hana Qudsiyah
Alumni Teknik Kelautan ITS
untuk teman-teman TA tim Vivace dan aktivis mahasiswa
"Perjuangan kalian tidak akan sia-siaâ€