Nadjadji Anwar: Jadikan ITS yang Terdepan

Published on
By

Sebuah tekad bergemuruh dalam diri pria yang akrab disapa Nadjadji ini. Di kali ketiganya maju dalam bursa pemilihan rektor, Nadjadji mengaku semakin mantap dalam merancang langkah-langkah ITS lima tahun kedepan. Ia pun tak merasa kapok setelah dua kali bertut-turut hanya sampai di tiga besar calon Rektor ITS.

“Mimpi besar saya adalah membawa ITS menjadi perguruan tinggi terdepan,” ujarnya lugas. Sejauh ini, lanjut Dosen Teknik Sipil tersebut, ITS memang sudah berada di barisan depan perguruan tinggi tingkat nasional, akan tetapi belum menjadi yang terdepan. Oleh karena itu, dalam visinya kali ini ia ingin mempekuat diri ITS secara menyeluruh hingga nantinya mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.

“Menjadikan ITS sebagai kampus center of creativity, atau pusat pengembangan kreativitas,” tambahnya. Dimulai dari mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan ITS. Ketiga elemen ini menurut Nadjadji tidak bisa saling melepaskan satu dengan yang lain. Untuk mahasiswa misalnya, pria 56 tahun ini memberi patokan dalam memperbanyak ukiran prestasi yang ditorehkan. Dibarengi dengan apresiasi terhadap prestasi yang didapat mahasiswa. "Sekecil apapun prestasi tersebut harus tetap diberi penghargaan," ungkap Nadjadji. Karena menurut Nadjaji, perhargaan serta apresiasi akan menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk lebih giat menorehkan prestasi.

Begitu pula dengan dosen ITS, sebagai Ketua Laboratorium Hidrodinamika Teksnik Sipil, Nadjaji paham dengan kiprah dosen yang juga lekat dengan profesi peneliti. Menurut Nadjaji, ITS mempunyai peluang dan potensi yang sangat besar dalam bidang penelitian dosen. Tak ketinggalan juga yang menjadi perhatian Nadjaji adalah tenaga kependidikan.

Nadjadji yang pernah menjabat sebagai Dekan FTSP selama tujuh tahun, menganggap pengalaman tersebut lebih dari cukup untuk menggali titik-titik kesejahteraan bagi tenaga kependidikan. "Seperti karyawan dan tata usaha;" Ujar Nadjadji. Pengalaman tersebut juga membuat ia banyak belajar dalam menyusun sistem pendidikan universitas. Termasuk perjuangannya untuk mendirikan jurusan baru, seperti Teknik Lingkungan, Desain Produk, dan Perencanaan Wilayah Kota.

Sebagian besardari sistem yang ada mengharuskan tenaga kependidikan mempunyai gelar program pasca sarjana. “Saya berharap nantinya dapat memasyarakatkan beasiswa tidak hanya untuk mahasiswa, tapi juga tenaga kependidikan yang layak untuk meneruskan studi,” ungkapnya bijak. Hal ini, tambah Nadjaji, juga memuat faktor kesejahteraan tenaga kependidikan yang selama ini masih kurang diberi perhatian.

Selain tiga cakupan patokan pengembangan yang Nadjaji soroti, Guru Besar Managemen Sumber Daya air ini juga mempunyai targetan pencapaian yang ia rangkum dalam lima klasifikasi. Yaitu mutu, akreditasi, prestasi, otonomi yang akuntabilitas, serta evaluasi diri. “Kelima poin ini menjadi paragidma kesuksesan perguruan tinggi,” jelasnya kritis.

Dari kelima aspek diatas, yang ia rasa paling berpengaruh adalah otonomi dan evaluasi. Meski masalah otonomi yang kaitannya dengan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan hingga kini masih terganjal oleh keputusan Mahkamah Agung. Nadjaji yakin tidak lama lagi, permasalahan tersebut tuntas dan ITS akan segera menjadi Perguruan Tinggi yang mandiri.

Untuk poin evaluasi, Nadjaji menganggap evaluasi merupakan cara ITS belajar dari pengalaman sebelumnya. “ITS murni lahir dari Indonesia, betul-betul lahir karena bukan warisan dari pihak manapun. Tanpa evaluasi takkan bisa melangkah maju,” aku pria yang suka tantangan ini. 

" Membutuhkan keuletan dan kegigihan demi mencapai suatu kesejahteraan" tuturnya. Nadjaji berharap dengan sistem yang ia tawarkan dapat menjadikan ITS sebagai yang terdepan. Menghasilkan lulusan-lusan handal yang nantinya berguna bagi bangsa dan negara. “Dengan ITS semakin maju akan banyak berkontribusi bagi bangsa, majulah ITS majulah Indonesia,” ujarnya tersenyum simpul.

Menurut sosok yang moderat dan pro-pengkaderan ini, sistem kaderisasi di ITS masih menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Terlebih dengan adanya kebiasaan yang menimbulkan kucing-kucingan antara mahasiswa dengan pihak birokrasi. Khusus untuk permasalahan ini,ia punya pandangan sendiri. “Pengkaderan merupakan masa-masa penting bagi mahasiswa, dimana saja dan kapan saja semua pasti diawali dengan pengkaderan,” tuturnya bijak.

Pada dasarnya, Nadjaji mengaku setuju dan mendukung adanya pengkaderan di ITS, dan menyarankan memang seharusnya ada. Hanya saja, perlu ada kesepahaman agar biar tidak main kucing-kucingan. " Asal tidak menghapus hak-hak mehasiswa baru. Seperti kesehatan, akademik, psikologis serta prinsip" paparnya.

 â€œDengan kebersamaan, saya yakin kaderisasi di ITS akan semakin tertata dan terarah,” ungkap bapak dari tiga ini. Selama masa karirnya, Nadjaji mengaku ia selalu menjadi pendengar yang baik. Ia juga pria yang moderat yang melihat suatu permasalaahan dari banyak sudut pandang. Bagi Nadjaji, semua bisa dipecahkan dengan keterbukaan dan kebersamaan. Ia pun mengajak seluruh elemen warga ITS untuk bersama-sama memajukan ITS. (fz/az)

×