Mewujudkan Ruang Aman bagi Perempuan lewat Semangat Hari Kartini

Published on
By
Ilustrasi Kartini yang melambangkan perjuangan perempuan (Sumber: freevector.com)
Ilustrasi Kartini yang melambangkan perjuangan perempuan (Sumber: freevector.com)

Kampus ITS, Opini — Raden Ajeng Kartini adalah sosok yang memantik api keberanian perempuan untuk bersuara dan memperjuangkan haknya. Berbagai gagasannya mengenai pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan masih terus menyala hingga hari ini. Semangat juangnya kian digaungkan, terlebih ketika semakin banyak perempuan yang mulai berani menyampaikan kisah dan resah.

Saat ini, perempuan telah berada dalam posisi yang semakin beragam, mulai dari kemampuan dalam mengakses pendidikan tinggi, berpartisipasi dalam berbagai bidang, serta kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Akan tetapi, di balik perkembangan pesat perjuangan perempuan tersebut masih ada jalan yang terjal dan berliku dalam mendorong kesetaraan perempuan. 

Ruang aman bagi perempuan telah diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini sejak 1903, kala dirinya mendirikan sekolah bagi putri-putri bumiputera di serambi belakang pendopo Jepara. Sekolah tersebut ia fungsikan sebagai suaka, sebuah lingkungan yang membebaskan perempuan dari stigma dan tekanan adat yang selama ini membungkam mereka. 

Tidak hanya itu, melalui surat-suratnya dengan para sahabatnya di Belanda, Kartini berupaya membangun ruang saling mendengar versinya sendiri kala itu. Sekumpulan surat tersebut adalah wadah intelektual bagi dirinya menuangkan keresahan akan tradisi pingitan yang membelenggu. Setiap aspirasi mendapatkan tempat untuk bertumbuh tanpa rasa takut akan penghakiman.

Jika menilik kembali pada sosok Kartini, ia tak hanya memperjuangkan perempuan agar dapat bersuara, tetapi juga memberi perempuan sebuah ruang untuk didengar selayaknya manusia yang utuh. Lebih dari keberanian untuk bersuara, perempuan juga membutuhkan lingkungan yang mampu menghargai tanpa merendahkan atau mengabaikan suara mereka. 

Oleh karena itu, melanjutkan semangat Hari Kartini tidak cukup hanya dengan merayakan keberanian perempuan. Diperlukan ruang bagi perempuan untuk menyampaikan cerita dan pendapatnya tanpa rasa takut serta menghargai perempuan sebagai individu yang setara. Menciptakan ruang aman bagi perempuan dapat diwujudkan melalui interaksi yang menjunjung hak perempuan dan kesadaran untuk tidak menormalisasi perilaku yang merendahkan perempuan. 

Pada akhirnya, peringatan Hari Kartini bukan sekadar mengenang sosoknya, melainkan juga melanjutkan nilai-nilai yang ia perjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat Hari Kartini, semoga semangat perjuangannya terus hidup dan menginspirasi kita semua untuk membangun ruang yang lebih aman, setara, dan penuh empati bagi setiap perempuan.

 

Ditulis oleh:
Nailah Rifdah Zakiyah
Departemen Desain Komunikasi Visual
Angkatan 2024
Reporter ITS Online

×