Disela peresmian, Nasir mengapresiasi kiprah ITS yang telah mendirikan gedung pusat riset sebagai bentuk upaya dalam pengembangan riset dan teknologi. "Saya bangga ITS sudah bisa mendirikan gedung ini terhitung baru menjadi PTN BH. Tidak hanya itu, ITS juga harus bisa meningkatkan langkah ke dunia industri," tuturnya.
Kebanggaaan Nasir lainnya, datang dari pencapaian seribu jurnal yang telah dipublikasikan ITS dalam kurun waktu satu tahun. "Jurnal merupakan salah satu hal yang penting bagi para peneliti. Saya sangat mengapresiasi capaian ITS kali ini sangat luar biasa," ujar Nasir dengan sangat bangga.
Di lain hal, perkembangan teknologi kian berkembang, cepat dan sangat kompleks. Tak ayal, era Internet of Things (IOT) kini telah masuk ke dalam dunia pendidikan. Sehingga dalam pidatonya Nasir berpesan untuk para akademisi agar tidak salah dalam pengaplikasiannya. Lanjut Nasir, dibutuhkan aksi antisipasi high order intellectual thinking atau yang dimaksud dengan kemampuan analisa, evaluasi dan inovasi.
"Dunia pendidikan harus dapat mengantisipasinya, membuat sesuatu yang baru bukan hanya hafal rumus lalu mengaplikasikannya. Itu sama saja low order intellectual thinking," lanjutnya dalam pidato singkat.
Selain meresmikan Gedung Pusat Riset ITS, pihak Kemenristekdikti juga melakukan peluncuran tujuh produk untuk menunjang dan mempermudah perguruan tinggi untuk para akademisinya. Yakni, diantaranya Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Klinik SPMI Mobile, Sistem Informasi Sumber Daya Terintregasi (SISTER), Grand Design SDM Sektor Pendidikan, Science and Technologi Index (SINTA), Teaching Industri dan Pendidikan Profesi Guru.
Di akhir, Nasir berharap agar pendidikan kedepan lebih merata untuk semua kalangan. Juga kepada ITS, diharapkan dapat menjadi panutan dan contoh untuk perguruan tinggi lainnya. "ITS semoga dapat menjadi contoh perguruan tinggi di Indonesia untuk wilayah timur," harapnya. (ifa/riz)