Gadis berkemeja ungu itu tengah duduk sendirian di kursi deretan belakang saat daftar ulang. Map di tangannya berisikan form yang yang harus dilengkapi. Amalia Anjani, nama mahasiswa baru tersebut. â€Saya diterima di jurusan Sistem Informasi,†ujar Amalia ketika ditanya diterima di jurusan apa.
Dengan ITS Online, gadis tersebut bersedia membagi cerita perjuangannya menempuh pendidikan hingga akhirnya diterima di ITS. â€Orang tua saya hanya penjual minyak tanah, semakin sulit saja sekarang karena ada program konversi ke gas,†terangnya mengawali. “Untuk sekolah saja saya lebih banyak mengandalkan beasiswa,†imbuh lulusan SMK Telkom Malang tersebut.
Diakui Amalia bahwa dia berharap banyak dari beasiswa yang diterimanya sedari SMK hingga menjelang kuliah saat ini, “Syukurlah saat SMK dulu ada program beasiswa bebas SPP selama semester ganjil bagi mereka yang berperingkat tiga besar, jadi saya masih bisa sekolah,†ujarnya. Sedangkan untuk saat ini dirinya merasa bersyukur bisa melanjutkan pendidikan karena menerima beasiswa Bidik Misi. “Meringankan beban orang tua,â€pungkasnya.
Lain lagi cerita Abdul Kohar, orang tua yang mengantar anaknya saat daftar ulang. Bapak satu ini sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. “Itu ya pekerjaan tidak tetap, kadang-kadang ada kadang-kadang tidak,†aku Kohar.
Dengan mengendari sepeda motor dari Burneh, ia membonceng Ainatul Maulida, menuju ITS. “Saya sendiri terus terang tidak mampu membiayai pendidikannya, sewaktu SMA pun Aida dibantu beasiswa sekolah,†urai Kohar. “Selama ini, ya anaknya sendiri yang cari-cari info supaya bisa tetep sekolah temasuk sekarang ini,†terangnya lagi.
“Selama anaknya serius saya hanya bisa mendoakan dan mendukung,†ujar Kohar. Masih teringat jelas bagaimana Kohar berjibaku melawan hujan di pagi petang mengantar Aida yang saat itu masih SMP. “Air setinggi lutut dan tujuh kilo jauhnya saya mengayuh sepeda membonceng Aida,†terangnya.
Tak jauh berbeda dengan dua cerita sebelumnya, Moch Fachrudin, mahasiswa baru jurusan Fisika asal Lamongan juga mengandalkan beasiswa Bidik Misi. “Ayah saya buruh tani,†jelasnya. “Ayah saya hanya sanggup membiayai hingga SMA, sedangkan kuliah sepenuhnya terserah saya,†ujar mahasiswa yang sempat melaju hingga semifinal OMITS ITS ini.(fi/bah)