Dalam ceramahnya, dosen yang akrab disapa Shahab ini memaparkan mengenai hakikat ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Menurutnya, satu-satunya ilmu yang tidak ditujukan untuk melakukan perusakan adalah ilmu akhirat. Guru Besar Jurusan Teknik Mesin tersebut mengaku agak menyesalkan pola kurikulum sekarang yang memisahkan pendidikan agama dari pendidikan umum, "Seharusnya ilmu agama harus selalu disertakan karena setiap ilmu pengetahuan itu hakikatnya berasal dari Allah," ungkap Shahab.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang ada sekarang hanyalah sekedar kesepakatan empiris semata. Baginya, pokok inti pengetahuan hanya berasal dari Allah SWT. Sebagai contoh, seseorang dapat mengatakan air pada tekanan satu atmosfer akan mendidih pada suhu seratus derajat celcius adalah karena hasil pengukuran yang disepakati bersama. "Padahal, yang menetapkan terjadinya hal tersebut adalah Allah SWT," tukasnya.
Di bawah megahnya kubah masjid, Shahab bahkan sempat mengajak para peserta untuk memahami hakikat manusia sebagai makhluk yang dikaruniai ilmu pengetahuan. Mulai dari Nabi Adam As yang diajari tentang nama-nama benda oleh Allah SWT, Qabil yang diajari cara mengubur jenazah, hingga penemuan antibiotik penicilin oleh Alexander Flaming.
Menurut pemaparannya, sebenarnya manusia memang disiapkan untuk bisa, hanya saja Allah yang mengajarkan caranya. Namun, lanjutnya, pengajaran itu hanya bisa diterima oleh orang-orang yang mau berusaha mencari tahu, belajar, bekerja keras dan bersusah payah. "Karena rezeki hanya turun pada orang yang siap menerimanya," tegas pria berpostur ramping tersebut.
Shahab meyakini, dalam mencari ilmu apapun harus diniatkan untuk mencari rida Allah SWT terlebih dahulu. "Allah yang paling berperan atas semua yang terjadi. Maka dari itu manusia harus pintar-pintar mencari muka dihadapan Allah SWT dengan giat beribadah dan bekerja," pungkasnya. (n15/pus)