Meneladani Makna Kepahlawanan di Era Digital

Published on
Citizen journalism
Citizen journalism sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan berpendapat di muka publik (Sumber: mijil.id).
By
Penyebaran Hoax di Sosial Media
Penyebaran hoaks dan disinformasi yang menjadi tantangan besar dalam menjaga integritas di ruang digital (Sumber: Pixabay).

Kampus ITS, Opini — Kala 10 November kembali menyapa, bangsa ini seakan berhenti sejenak untuk mengenang mereka yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Dahulu, para pahlawan bertempur di jalanan, mengorbankan nyawa demi sebuah kebebasan. Kini, medan perjuangan itu telah berpindah, dari deru denting peluru menjadi riuh percakapan di dunia maya.

Di era digital ini, keberanian tidak lagi diwujudkan lewat senjata, melainkan melalui gagasan yang ditulis dan disebarkan dengan gerakan jari di atas layar. Indonesia dengan 143 juta pengguna media sosialnya menciptakan ruang bebas yang dapat menjadi ladang perubahan sekaligus tempat penyebaran kebohongan. Media sosial menjelma menjadi arena pertempuran di mana siapa saja dapat menyuarakan kebenaran.

Setiap orang kini berpotensi menjadi pewarta, penyampai pesan, bahkan penjaga ingatan kolektif bangsa. Fenomena citizen journalism memperlihatkan hal itu ketika warga merekam bencana, mengunggah ketidakadilan, atau mengabarkan kondisi sosial yang tak terjangkau media arus utama. Di tangan masyarakat, peristiwa sederhana dapat berubah menjadi kisah yang menggetarkan nurani publik.

Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), citizen journalism atau jurnalisme warga adalah bentuk partisipasi individu tanpa latar belakang profesional untuk mengumpulkan, menulis, dan membagikan informasi kepada publik melalui berbagai platform digital. Praktik ini menjadi perwujudan dari hak atau kebebasan dalam berpendapat dan berpartisipasi di ruang publik.

Citizen journalism
Citizen journalism sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan berpendapat di muka publik (Sumber: mijil.id).

Namun, perubahan itu membawa ujian tersendiri. Data terbaru Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mencatat, sepanjang 25 Agustus hingga 21 Oktober 2025, pemerintah telah menangani 3.943 konten disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian di berbagai platform. Angka ini menunjukkan betapa rapuhnya ruang digital terhadap disinformasi. Pada titik inilah, kepahlawanan mendapat wujud baru, yaitu keberanian untuk setia pada kebenaran di tengah badai kebohongan.

Pahlawan masa kini mungkin tidak lagi berjuang di medan tempur, melainkan di ruang komentar berbagai lini masa media sosial. Tindakan sederhana seperti menolak menyebarkan hoaks, menulis dengan empati, atau memberi ruang bagi suara yang terpinggirkan adalah bentuk kecil dari perjuangan itu. Kejujuran saat ini menjadi sikap paling heroik di tengah riuhnya kebisingan digital.

Peringatan Hari Pahlawan pun tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali api perjuangan dalam wajah zaman yang berbeda. Jika dahulu nyawa dipertaruhkan untuk tanah air, kini integritas dipertaruhkan untuk menjaga warasnya ruang publik. Setiap unggahan dan kata dapat menjadi ladang nilai jika disertai kesadaran dan tanggung jawab moral.

Dari kisah Pertempuran Surabaya yang menjadi momentum di Hari Pahlawan hingga ke percikan perdebatan di dunia maya, semangat kepahlawanan terus menemukan bentuk baru. Ia hidup dalam tindakan-tindakan kecil, seperti berpikir sebelum membagikan, mendengar sebelum menilai, dan menulis dengan hati yang jernih. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak penjaga makna di tengah derasnya arus informasi, yakni mereka yang memilih jujur meski dalam kesunyian. (*)

 

Ditulis oleh:
Putu Calista Arthanti Dewi
Departemen Statistika
Angkatan 2023
Reporter ITS Online

×