
Kampus ITS, Opini – Peringatan Hari Waisak menjadi pengingat bagi penganut agama Buddha mengenai tiga peristiwa penting yang dialami Siddharta Gautama. Di balik rangkaian ibadah dan peringatan yang dilaksanakan, Hari Waisak menjadi kesempatan untuk merefleksikan nilai-nilai ajaran Sang Buddha baik bagi umat Buddha maupun kita sebagai mahasiswa.
Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, nilai-nilai dalam ajaran Sang Buddha dapat menjadi pedoman bagi mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Waisak mengingatkan bahwa menimba ilmu bukan semata menjadi yang paling unggul, melainkan juga tentang membentangkan potensi diri, merangkul setiap pengalaman, dan menumbuhkan kebijaksanaan untuk terus berkembang.
Tri Suci Waisak yang diawali dengan kelahiran Sang Buddha, menunjukkan bahwa Buddha lahir sebagai manusia yang menjalani proses tumimbal lahir (Samsara) sebelum mencapai kesadaran tertinggi (Bodhi). Hal tersebut bermakna bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang dan mencapai versi terbaik dirinya melalui proses belajar, usaha, dan ketekunan. Bagi mahasiswa, nilai ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak diraih secara instan, melainkan melalui perjalanan yang penuh tantangan.

Selanjutnya, Gautama mengalami penerangan sempurna, yakni pencerahan mengenai hakikat kehidupan dan menjadi Buddha seutuhnya. Peristiwa ini dapat dimaknai bahwa untuk mencapai kebijaksanaan dan tahapan terbaik dalam diri, perlu proses panjang dengan pencarian dan perenungan. Sebagai mahasiswa, kita dapat memaknainya dengan setiap bentuk pengalaman, baik sukses maupun gagal, merupakan hal signifikan dalam proses menuju kedewasaan.
Peristiwa terakhir dalam Tri Suci Waisak adalah wafatnya Sang Buddha (mahaparinibbana). Kepergiannya memegang nilai ketidakkekalan, yaitu segala sesuatu di dunia pasti akan mencapai akhirnya. Sebagai mahasiswa, kita sering kali berlarut dalam kesedihan dari tantangan akademik yang hadir seolah-olah keadaan ini akan berlangsung selamanya. Padahal, esensi sesungguhnya dari ketidakkekalan adalah pemahaman bahwa segalanya pasti akan berlalu.
Kesadaran mengenai ketidakkekalan diperlukan agar kita mampu menerima kegagalan sebagai bagian perjalanan menjadi manusia. Di tengah kehidupan kampus yang menuntut kesempurnaan, interpretasi akan nilai dari Buddha ini dapat menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan agar kita sanggup melangkah dengan optimis.
Momentum Waisak menjadi pengingat bagi mahasiswa untuk merefleksikan perjalanan yang telah dilalui dan tengah dijalani. Seorang mahasiswa perlu menyadari jika perkuliahan bukan mengejar angka dan pencapaian semata, melainkan sebuah proses untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana, selayaknya nilai-nilai yang diajarkan oleh Sang Buddha. (*)
Ditulis Oleh:
Nailah Rifdah Zakiyah
Departemen Desain Komunikasi Visual
Angkatan 2024
Reporter ITS Online