
Kampus ITS, Opini — Mudik merupakan tradisi pulang kampung yang selalu dinanti jutaan orang di Indonesia setiap Lebaran. Namun, dibalik tingginya antusiasme tersebut tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk pulang, contohnya mahasiswa perantau. Lalu bagaimana makna Lebaran bagi para perantau yang merayakan Idulfitri jauh dari rumah?
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI), sekitar 143 juta orang diperkirakan melakukan perjalanan selama periode Lebaran 2026. Angka ini menunjukkan bahwa mudik masih menjadi fenomena besar yang melibatkan hampir setengah penduduk Indonesia. Pergerakan ini pun didominasi oleh perjalanan antarkota, khususnya di Pulau Jawa yang memiliki akses transportasi darat lebih luas dibandingkan wilayah lain.
Namun, di balik besarnya arus mudik tersebut, terdapat kelompok masyarakat yang tidak selalu memiliki kesempatan untuk pulang. Salah satunya adalah mahasiswa perantau. Bagi mereka, pulang ke kampung halaman bukan hanya sekadar obat rindu, tetapi juga tentang mempertimbangkan jarak, biaya, dan waktu libur yang sering kali tidak sebanding dengan panjang perjalanan.

Kenaikan biaya transportasi menjelang Lebaran, terutama tiket pesawat, kerap menjadi hambatan bagi mahasiswa. Dilansir dari fortuneidn.com, Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan Agustinus Budi Harto menjelaskan, lonjakan harga tiket pada periode mudik dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan serta biaya operasional penerbangan. Bagi mahasiswa yang harus menempuh perjalanan antarpulau, kondisi ini tentu terasa semakin berat.
Terlebih lagi, keterbatasan waktu libur juga menjadi pertimbangan. Durasi libur yang relatif singkat membuat biaya perjalanan yang mencapai jutaan rupiah terasa kurang sebanding dengan waktu yang tersedia. Hal inilah yang mendorong sebagian mahasiswa untuk memilih tetap berada di perantauan dan menunda kepulangan ke momen lain yang lebih memungkinkan.
Dalam situasi tersebut, berbagai upaya dilakukan untuk tetap merayakan hari raya. Meski tidak bersama keluarga, suasana Lebaran tetap dapat dihadirkan melalui kedekatan dengan teman-teman yang memiliki kondisi serupa. Sebagian memilih berkumpul bersama untuk melaksanakan salat Id dan berbagi makanan, sementara yang lain memanfaatkan teknologi komunikasi untuk tetap terhubung dengan keluarga di kampung halaman.

Tidak hanya itu, menghadirkan nuansa Lebaran juga dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana. Contohnya seperti menyiapkan dan berbagai hidangan khas Lebaran atau bahkan dengan mengirimkan bingkisan kepada keluarga. Berbagai cara ini menunjukkan bahwa kebersamaan tetap dapat dirasakan, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Lebaran di perantauan pun menunjukkan bahwa makna hari raya tidak sepenuhnya bergantung pada lokasi. Kebersamaan tetap dapat terjalin meskipun dirayakan jauh dari kampung halaman. Di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi juga memungkinkan silaturahmi tetap berlangsung tanpa harus bertemu secara langsung.
Pada akhirnya, tidak mudik bukan berarti kehilangan makna Lebaran. Bagi mahasiswa yang tetap berada di perantauan, hari raya tetap bisa dirayakan dengan hangat meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana. Adanya kehadiran teman-teman di sekitar membuat momen Lebaran tetap dapat dirayakan dengan penuh suka cita melalui kebersamaan yang berbeda, tetapi tetap bermakna. (*)
Ditulis oleh:
Nadhifa Raghda Syaikha
Departemen Teknik Mesin
Angkatan 2024
Reporter ITS Online