Gambaran erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau (Foto: Pixabay)
Kampus ITS, ITS News — Baru-baru ini, dikabarkan bahwa telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Jumat (4/9) lalu, yang waktunya relatif berdekatan dengan erupsi Gunung Api Ibu, Lewotolok, dan Semeru. Erupsi keempat gunung api yang terjadi dalam kurun waktu berdekatan tersebut kerap dianggap sebagai suatu fenomena ‘domino’ yang disebabkan oleh satu faktor geologis.
Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik dan tektonik yang terjadi merupakan fenomena alam yang dipicu oleh tingginya proses kebumian. Termasuk gempa bumi serta erupsi gunung api yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
Haris menerangkan bahwa setiap gunung api tersebut pada dasarnya memiliki karakteristik unik serta siklus erupsi yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, perilaku aktivitasnya tidak dapat disamaratakan. “Fenomena meletusnya beberapa gunung api secara bersamaan itu merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” terang Haris.
Ahli Geologi ITS Ajak Masyarakat Memahami Aktivitas Gunung Api di Indonesia
Lebih lanjut, Haris menyebut bahwa masing-masing gunung api memiliki sistem dapur magma, proses magmatisme, dan karakteristik tektonik yang independen. Sebagai contoh, Gunung Semeru dan Krakatau dipengaruhi oleh interaksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia (Sunda), sementara Gunung Ibu memiliki sistem tektonik yang berbeda akibat adanya double subduction.
Sementara itu, Gunung Lewotolok memiliki keunikan karena berada di dekat batas proses subduction yang telah berakhir. “Kondisi itu menyisakan struktur geologi berupa robekan pada lempeng slab yang tersubduksi yang mengakibatkan tersedianya pasokan magma,” papar Haris.
Kepala Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut juga menerangkan bahwa dapur magma di dalam perut bumi bekerja layaknya ruangan berongga mirip spons dengan saluran dari retakan batuan yang cukup besar. Ruangan berongga tersebutlah yang menampung lelehan batuan cair dari dalam bumi.
Haris menuturkan bahwa kandungan fluida dan uap air yang melimpah di dalam magma memiliki karakteristik yang mirip dengan cairan bersoda di dalam botol tertutup. “Semakin tingginya tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” tuturnya.
Pada lain sisi, kantong magma akan mengalami proses pendinginan secara perlahan-lahan jika suplai magma dari bawah bumi terhenti dan tidak ada lagi pemicu aktivitas tektonik. Pendinginan yang berjalan sangat lambat ini membuat mineral-mineral di dalam magma mengkristal secara teratur. “Sehingga aktivitas vulkanik gunung tersebut lambat laun akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus memicu letusan,” ungkap Haris.
Lebih lanjut, aktivitas erupsi gunung api juga dipicu oleh faktor eksternal seperti guncangan gempa bumi tektonik yang memberikan tekanan kantong magma yang sudah penuh. Di mana peningkatan tekanan mendadak membuat tutup atau celah kantong magma terlepas dan memicu terjadinya letusan. Namun hal ini sangat dipengaruhi oleh jarak antara sumber gempa dan kantong magma.
Oleh karena itu, Haris mengungkapkan bahwa tingkat aktivitas tiap gunung api sangat bervariasi. Sebagian tetap menunjukkan kegempaan dasar tanpa henti, sementara sebagian lain bisa dorman total selama ratusan tahun sebelum aktif kembali. Karena variasi inilah, pemantauan dilakukan terus-menerus dan diklasifikasikan dalam 4 level, yakni Normal, Waspada, Siaga, dan Awas.
Laporan Seismogram Gunung Anak Krakatau secara langsung yang ditampilkan pada laman Magma Indonesia milik PVMBG (Foto: Magma Indonesia)
Status ini diukur berdasarkan pemantauan seismisitas, deformasi bentuk gunung, pengamatan visual kolom asap, serta data geokimia. Seperti contohnya yakni erupsi GAK yang didominasi oleh tipe letusan Strombolian yang relatif tidak terlalu besar. Namun memang memiliki durasi berlangsung cukup lama hingga hampir 25 jam secara kontinu.
Durasi yang panjang tersebut membuat pasokan abu vulkanik terus disemburkan ke udara hingga mencapai ketinggian yang signifikan. “Sebaran abu terbagi dua arah — tenggara ke wilayah Banten dan barat-barat daya ke Lampung hingga Samudra Hindia — tergantung lapisan ketinggian angin saat itu, sebagaimana terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG,” ujar dosen Departemen Teknik Geofisika ITS itu.
Haris menekankan bahwa dinamika gunung api merupakan proses alam yang perlu dipahami berdasarkan data pemantauan. Pemahaman terhadap karakter gunung api menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi dinamika kebumian.
Pemahaman tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama SDGs poin ke-11 demi tata ruang wilayah yang aman dari zona bahaya, serta memperkuat ketahanan infrastruktur. Memahami dinamika aktivitas vulkanik, siklus magma, dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar gunung api mendukung pelestarian ekosistem daratan sesuai SDGs ke-15. (HUMAS ITS)