Keluarga Mahasiswa (KM) ITS berbondong-bondong menuju Plaza dr Angka untuk membahas sejarah dan tantangan hari ini. Renungan malam yang dimoderatori langsung oleh Presiden BEM ITS, Imran Ibnu Fajri pun dimulai. Hangat berawal dari sebuah pertanyaan sederhana seorang
sastrawan kelahiran 82 tahun silam, Suparto Brata. Ia memaparkan
ulang sejarah tahun 1945 lantas melempar sebuah pertanyaan pada forum, ”Sudah berapa buku yang anda baca?”
Bagi penulis buku Pertempuran 10 November 1945 ini, membaca dan menulis adalah tonggak kuat untuk memajukan bangsa. Orang yang membaca dan menulis adalah orang yang maju mengikuti jaman. "Orang primitif tidak membaca dan menulis, tetapi hanya melihat dan mendengar" tandasnya.
Suparto sendiri memaknai Sepuluh Nopember dengan melihat apa yang mampu dilakukan mahasiswa di masa lampau dengan apa yang dapat dilakukan mahasiswa di masa kini. "Dulu kurikulum pendidikan mengajar anak anak membaca dan
menulis sejak kelas satu SD (Sekolah Dasar, red) hingga kelas 12 SMA (Sekolah menengah Atas, red)," terang pria yang namanya tercatat dalam Five Thousand Personalities of The World ini.
Pakar Pendidikan Jawa Timur, Prof Daniel M Rosyid PhD MRINA pun sependapat dengan Suparto bahwa proses belajar dimulai dari membaca. Setelah membaca,
lalu praktik, menulis, dan berbicara. ”Kebanyakan pemuda zaman
sekarang merasa sudah belajar, membaca, dan menulis hanya karena sudah pergi sekolah,” celetuk Daniel.
Dari sinilah ditekankan bahwa perjuangan pemuda hari ini dalam memaknai Sepuluh Nopember harus dimulai dari dasar. Baca tulis merupakan hal yang dianggap dasar sebelum berlanjut pada perjuangan yang lain. Pria yang mengidolakan tokoh Bung Karno tersebut menyadari bahwa menulis membutuhkan keberanian dan keyakinan besar. Ia menjelaskan, fenomena pendidikan saat ini cenderung mengandalkan kepintaran, bukan keberanian. Hal ini yang ia anggap menjadi penyebab sulitnya pemuda dalam memulai menulis.
Lain Daniel, lain lagi Pasca Hariyadi Winanda, Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin. Ia memaknai Sepuluh Nopember dengan memandang rasa patriotisme pada diri mahasiswa saat ini. "Apakah kita memiliki rasa patriotisme seperti pahlawan dulu?" tanya pria yang mengidolakan Bung Hatta tersebut.
Hal yang menarik bagi Pasca adalah rasa patriotisme dr Angka yang menanggalkan kepentingan pribadinya demi membangun sebuah perguruan tinggi teknik. Dengan jiwa mudanya, Pendiri Komunitas Aku Peduli Cak ini pun berpesan, ”Patriotisme itu bagaimana kita menaruh kepentingan pribadi dibawah kepentingan umum. Mahasiswa banyak dibiayai rakyat, kita perlu berbelas kasih atas apa yang sudah diberi Indonesia. Menulislah!” (o10/imb/fin)