
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui capaian salah satu mahasiswanya. Aldiez Rizkia Centrinova, mahasiswa Departemen Sistem Informasi ITS, berhasil meraih penghargaan Honorable Mention dalam ajang bergengsi Nanyang Technological University Model United Nations (NTU MUN) 2026 yang diselenggarakan di Singapura.
Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) ITS yang berhasil membawa pulang penghargaan dalam kompetisi tersebut. NTU MUN 2026 merupakan salah satu kompetisi Model United Nations terbesar di Asia Tenggara sekaligus termasuk yang paling prestisius di dunia. “Ajang ini mempertemukan ratusan delegasi dari berbagai negara dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas isu-isu global strategis,” papar Aldiez.
Dalam kompetisi tersebut, Aldiez berperan sebagai delegasi yang mewakili Somalia di bawah mandat United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Ia mengangkat topik The Question of Piracy and Armed Robbery at Sea, yang menyoroti isu keamanan maritim global, khususnya di kawasan rawan seperti Tanduk Afrika.
Sebagai representasi Somalia, Aldiez dihadapkan pada tantangan kompleks terkait tingginya angka pembajakan laut yang dipengaruhi oleh kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, serta ketidakstabilan politik di wilayah pesisir. Selain itu, praktik illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing turut memperburuk kondisi ekonomi masyarakat pesisir dan mendorong sebagian pihak terlibat dalam aktivitas pembajakan.
Dalam forum tersebut, Aldiez tidak hanya berpartisipasi aktif, tetapi juga berperan sebagai sponsor dalam Bloc Draft Resolution 1.2. Resolusi ini menawarkan solusi komprehensif melalui penguatan kerja sama patroli maritim, peningkatan kapasitas negara pesisir, sistem pertukaran informasi keamanan laut, serta pembangunan ekonomi wilayah pesisir sebagai pendekatan jangka panjang.

Selama proses negosiasi, Aldiez bersaing dengan blok Arab Saudi yang menitikberatkan pada aspek keamanan serta blok Singapura yang mengedepankan efisiensi perdagangan dan teknologi maritim. Berbeda dengan kedua blok tersebut, Aldiez mengusung pendekatan yang lebih holistik dengan mengintegrasikan aspek keamanan, hukum, dan ekonomi. “Penyelesaian masalah pembajakan tidak dapat hanya berfokus pada aspek hukum dan keamanan semata, melainkan juga harus menyentuh akar permasalahan, yakni kondisi ekonomi masyarakat pesisir,” paparnya.
Aldiez mengungkapkan bahwa pencapaian ini merupakan peningkatan dari partisipasinya pada tahun sebelumnya. Pada ajang yang sama, ia berhasil meraih Verbal Commendation, dan tahun ini meningkat menjadi Honorable Mention. Menurutnya, hal tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan diri.
Selain prestasi yang diraih, Aldiez juga mendapatkan berbagai pelajaran berharga, terutama dalam hal diplomasi internasional, negosiasi multilateral, serta kemampuan berpikir strategis dalam menghadapi isu global yang kompleks. Ia menekankan pentingnya memahami perspektif berbagai negara dalam merumuskan solusi bersama.
Di akhir, Aldiez mendorong mahasiswa ITS lainnya untuk berani mencoba kesempatan di tingkat internasional. “Keberanian untuk keluar dari zona nyaman merupakan kunci dalam meraih pengalaman sekaligus prestasi global,” tandasnya mengingatkan.
Prestasi ini menjadi bukti kontribusi ITS dalam mencetak lulusan berdaya saing internasional serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kususnya pada poin 1 tentang Tanpa Kemiskinan, poin 4 terkait Pendidikan Berkualitas, serta poin 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Selian itu juga pada poin 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, poin 14 mengenai Ekosistem Laut, serta poin 16 soal Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. (*)