ACT yang menjadi produk dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) itu adalah salah satu karya yang dipresentasikan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 28, Rabu (7/10) di Universitas Halu Oleo, Kendari.
Eko Ary Priambodo, ketua tim, menampilkan prototype karya cipta yang mereka kerjakan selama lima bulan terakhir. ACT sendiri merupakan suatu prototype alat pendingin udara portabel berbasis Go Green dengan metode termoelektrik. ACT dapat difungsikan sebagai kipas pendingin ramah lingkungan yang dapat digunakan menjadi pendingin laptop, CPU, dan bahkan pendingin ruangan.
Eko menjelaskan, keunggulan prototype ini terdapat pada sistem pendinginannya yang tidak menggunakan CFC, bahan kimia yang dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon. Cara kerja ACT menggunakan keping peltier atau keping panas-dingin. "Satu sisi keping akan melepas panas sedangkan sisi lainnya akan menerima panas," jelasnya.
Dengan menggunakan perhitungan perbedaan suhu sebesar 30 derajat celcius, maka dapat disimpulkan bahwa semakin dingin suhu sisi yang menyerap kalor, semakin dingin pula sisi yang akan melepaskan kalor. Alat buatan mahasiswa ini, hanya menghabiskan listrik sekitar 65 Watt sehingga dapat digunakan hanya dengan memakai USB laptop atau power bank sebagai sumber energinya.
Pun demikian, ACT dilengkapi dengan sensor suhu dan pengatur suhu sehingga pengguna dapat mengatur suhu sesuai keinginan. Dikatakan oleh Ryo Teguh Sukarto, anggota tim, dengan desain portabel, ACT dapat digunakan dimana saja tanpa mengalami kesulitan. "Dengan alat ini, kita dapat mengurangi penggunaan energi listrik untuk kepentingan pendingin tanpa berisiko menghasilkan emisi di udara," tambah Ryo.
Di hadapan para juri Pimnas, tim ini tampil santai menjawab setiap pertanyaan. Pasalnya, jauh-jauh hari tim ini sudah memprediksikan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh dewan juri. "Semua pertanyaan itu sudah kami list dan temukan jawabannya," terangnya lagi.
Dengan adanya penelitian ini, Ryo berharap masyarakat tertarik untuk menggunakan ACT. Selain itu, penggunaan secara massal juga berdampak pada penghentian perusakan lapisan ozon. "Alat ini sangat membantu menjaga bumi tetap baik," pungkas Ryo. (ven/mis)