Mahasiswa ITS yang mayoritas tinggal di Keputih, Gebang, dan Mulyosari mengeluhkan sering munculnya bau tidak sedap yang membayangi mereka. Terlihat di kanan kiri badan jalan saluran air sudah berubah warna menjadi kehijauan atau malah menghitam. Beberapa malah tak mengalir. Sedangkan di atasnya berdiri warung-warung makanan yang ramai dikunjungi mahasiswa.
Penyebabnya bisa dikarenakan banyak hal, terutama kebiasaan masyarakat yang susah dirubah. Membuang sampah di sungai, penggunaan limbah cair dan bertoksin yang terlalu tinggi, atau banyaknya eceng gondok atau tanaman air yang menjadi penyebab buruknya kualitas air di Surabaya. Di samping itu, pemerintah juga dianggap kurang serius dalam menanggapi permasalahan sanitasi yang buruk ini. Terbukti dengan lamanya penanganan kualitas air dan usaha penjernihan sungai. Pemerintah hanya berhenti di usaha pembersihan air sungai melalui alat-alat berat yang diturunkan ke lokasi.
Belum lagi kualitas air PDAM Surabaya yang belum sepenuhnya jernih. Kualitas air tanah Surabaya mulai menurun seiring tercemarnya air tanah dengan air laut. Seorang pembicara lingkungan berkata, "Sudah hampir 50 persen air tanah di Surabaya tercemar dengan air laut. Jarang ditemui air yang segar di Surabaya." PDAM Surabaya banyak menggunakan penjernih air seperti Ca (ClO)2 atau kaporit yang dapat menyebabkan korosi jika tingkat kaporit lebih dari 10 persen. Korosi bisa terjadi terhadap saluran pecernaan jika terminum, terhadap kulit jika bersentuhan.
Akan tetapi, pada tahun 2009 PDAM Surabaya telah mengeluarkan air siap minum sebanyak 70 persen dari kebutuhan yang ada kepada masyarakat. Melalui program tersebut sebenarnya kualitas air di Surabaya sudah lebih baik daripada sebelumnya dan menjadi tolok ukur sebagai kota dengan sanitasi terbaik di Indonesia. Masalahnya terletak pada pipa penyaluran air yang merupakan peninggalan zaman Belanda. Pipa-pipa yang tersedia sebagian telah mengalami korosi dan berakibat pada turunnya kualitas air.
Pemerintah telah melakukan beberapa upaya guna menanggulangi permasalahan yang ada, salah satunya gerakan pembersihan eceng gondok di beberapa sungai. Ada juga gerakan Surabaya Green and Clean yang melibatkan seluruh masyarakat Surabaya. Dengan gotong royong warga, Surabaya berhasil menyabet juara Anugerah Adipura dari Presiden Susilo Bambang Yudhowono beberapa waktu lalu. Kali ini, peran mahasiswalah yang sangat diperlukan sebagai agent of change atau pengabdian terhadap masyarakat berbasis lingkungan.
Ottidilia Nur Laily
Mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri
Angkatan 2013