
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tingkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lewat kegiatan benchmarking dengan Bank BRI. Kegiatan yang digelar di Auditorium Lantai 2 Tower 2 ITS ini berbagi praktik transformasi budaya organisasi guna memperkuat budaya kerja yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
Kepala Biro Umum, Keamanan, dan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (BUK4L) ITS Dr Any Werdhiastutie ST MSi menyebut bahwa peningkatan kualitas perguruan tinggi tak lepas dari peran tenaga kependidikan (tendik). Menurutnya, tendik memiliki kontribusi penting dalam menjaga kualitas tata kelola dan kinerja institusi melalui dukungan terhadap penyelenggaraan layanan akademik maupun nonakademik.
Untuk mendukung peran tersebut, lanjut Any, diperlukan penguatan kompetensi yang disertai dengan penanaman budaya organisasi yang baik. Ia menjelaskan bahwa ITS telah melakukan berbagai upaya membangun budaya organisasi lewat 5S+S dan Zona Integritas. “Hal ini kami lakukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang profesional dan berintegritas,” ungkapnya.

Any menilai tantangan terbesar dalam membangun budaya organisasi terletak pada upaya menjadikannya sebagai kebiasaan yang melekat dalam keseharian tendik. Ia melihat budaya kerja masih sering dijalankan hanya ketika terdapat penilaian atau kompetisi tertentu sehingga belum sepenuhnya menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Oleh karena itu, ITS menghadirkan kegiatan benchmarking bertema Beyond Systems: The Importance of Work Culture sebagai sarana pengembangan diri bagi para pegawai. Melalui kegiatan ini, Any berharap tendik ITS dapat memperoleh perspektif baru mengenai strategi membangun budaya kerja. “Nantinya budaya kerja tersebut bisa diterapkan sebagai kebiasaan sehari-hari,” tutupnya.
Sependapat dengan Amy, Grup Head Culture Transformation BRI Abdul Wahid Wijaya membagikan pengalaman BRI dalam membangun budaya organisasi di lingkungan kerja. Ia menilai budaya organisasi harus diwujudkan dalam kebiasaan yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh pegawai, tidak hanya sekadar tertulis dalam aturan institusi.
Lelaki yang akrab disapa Wahid tersebut menambahkan, budaya organisasi tidak hanya harus diterapkan sehari-hari agar dapat berkelanjutan, tetapi juga harus adaptif. Ia turut mencontohkan beberapa perusahaan besar yang kehilangan eksistensinya akibat gagal menyesuaikan diri terhadap perubahan. “Yang akan bertahan bukanlah yang paling kuat atau paling pintar, tetapi yang paling mampu menyesuaikan diri,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wahid mengaitkan pentingnya adaptasi tersebut dengan konsep Infinite Game yang diperkenalkan Simon Sinek. Dirinya meyakini bahwa perguruan tinggi harus membangun budaya yang berorientasi pada keberlanjutan. Hal tersebut penting agar budaya yang dibangun bisa menyokong tujuan institusi hingga masa depan.
Untuk mewujudkan budaya organisasi yang adaptif dan berkelanjutan, lanjut Wahid, BRI menerapkan kerangka Influence Model yang terdiri atas I Understand, I See, I Am Capable, dan I Am Reinforced by Systems. Melalui model tersebut, BRI berupaya menanamkan nilai organisasi melalui keteladanan pimpinan, pengembangan kompetensi pegawai, serta penguatan sistem dan kebijakan yang selaras dengan budaya kerja perusahaan.
Lewat kegiatan ini, ITS berupaya memperkuat budaya kerja yang adaptif, inovatif, dan berintegritas di lingkungan kampus. Pembelajaran dari transformasi budaya BRI diharapkan dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kualitas layanan dan kinerja institusi. Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 yang mendukung terwujudnya pendidikan berkualitas. (*)
Reporter: Nabila Rahadatul Aisy Koestriyaningrum
Redaktur: Andra Eka Wijayanti