Lewat AITF 2026, ITS Gelar Lokakarya Pengembangan AI

Published on
By
Ketua Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi Dr Said Mirza Pahlevi MEng bersama peserta saat diskusi
Ketua Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi Dr Said Mirza Pahlevi MEng (kanan) bersama peserta AITF 2026 saat melakukan evaluasi prototipe model kecerdasan buatan

Kampus ITS, ITS NewsInstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperkuat ekosistem kecerdasan artifisial (AI) nasional melalui program AI Talent Factory (AITF) 2026. Berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Kemkomdigi), lokakarya ini mengajak mahasiswa terlibat langsung dalam pengembangan AI.  

Ketua Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi Dr Said Mirza Pahlevi MEng menjelaskan bahwa AITF 2026 merupakan upaya mencetak praktisi AI lokal yang kompeten. Dalam pelaksanaannya, peserta ditantang menyelesaikan studi kasus nyata yang merepresentasikan persoalan di lapangan melalui pendekatan berbasis proyek. “Metode project based learning diterapkan agar peserta bisa memahami penerapan AI secara lebih mendalam,” jelasnya.

Pada program ini, ITS berfokus pada dua studi kasus, yakni pelacakan disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK) serta perlindungan anak di ruang digital (PAD). Di bidang DFK, model AI dikembangkan untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan konten disinformasi, fitnah, maupun ujaran kebencian melalui analisis multimodal. Sementara itu, PAD berfokus pada pengembangan AI untuk klasifikasi konten ramah anak serta chatbot edukatif bagi orang tua.

Peserta-AITF-dan-tutor -ahli-sedang-berdiskusi
Sejumlah peserta sedang berdiskusi intensif bersama tutor ahli saat mengevaluasi model kecerdasan buatan pada lokakarya ketiga AI Talent Factory (AITF) 2026 di Kampus ITS

Lebih lanjut, Said memaparkan bahwa pengerjaan proyek ini dilaksanakan secara terstruktur melalui empat tahapan utama. Pada tahap pertama, peserta dibekali pengetahuan mengenai large language model (LLM) serta teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam proses pelatihan model. Selanjutnya, pada tahap kedua, peserta mempelajari proses continuous pre-training (CPT) dan supervised fine-tuning (SFT) menggunakan dataset yang telah dikumpulkan.

Memasuki tahap ketiga, imbuh Said, setiap kelompok akan berfokus pada evaluasi hasil CPT dan SFT melalui diskusi bersama tutor ahli. Tahap ini menjadi landasan penting sebelum peserta memasuki fase akhir, yakni presentasi hasil inovasi berupa proof of concept berbasis LLM di hadapan para pemangku kepentingan. “Keseluruhan proses ini diproyeksikan dapat menghasilkan model yang akurat untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan konten negatif di lapangan,” tutupnya.

Tantangan untuk bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi pencipta teknologi turut dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para peserta program. Salah satu peserta AITF 2026 Haliza Nur Kamilah Apalwan mengaku lokakarya ini membuka wawasan baru baginya terkait pengembangan model AI. “Kalau selama ini saya terbiasa menjadi pengguna, saat ini saya belajar memahami proses di balik pengembangan AI,” ujar mahasiswa Departemen Teknik Informatika angkatan 2023 itu.

Lewat AITF 2026, ITS memperkuat perannya dalam mencetak talenta digital yang mampu mengembangkan solusi AI bagi kemaslahatan nasional. Upaya penanganan hoaks serta proteksi anak di dunia digital ini selaras dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 terkait pendidikan berkualitas. Selain itu, langkah ini juga mendukung pencapaian SDGs poin ke-16 tentang upaya membangun perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh. (*)

 

Reporter: Nur Anisa Alya Eriska
Redaktur: Andra Eka Wijayanti

×