Begitulah gambaran yang mendasari Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) Universitas Airlangga (Unair) bekerjasama menggelar Leadership Talk, Sabtu (3/3).
Acara yang bertajuk Pemimpin Futuristik ini berhasil menarik perhatian mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Beberapa pembicara luar biasa yang di undang khusus untuk memberi wacana kepada mahasiswa mengenai kepemimpinan dan kekinian pendidikan. Diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, menandai dibukanya acara tersebut.
Diskusi ini dibagi menjadi dua sesi. Yang pertama merupakan diskusi mengenai cara sukses menjadi pemimpin ala mahasiswa. Materi ini dibawakan dengan menarik oleh Rahmat Haryanto, dokter muda dari Unair. Rahmat menjelaskan bagaimana menjadi mahasiswa luar biasa. Sedikit banyak ia menceritakan kiprahnya sebagai mahasiswa aktif berprestasi yang memberikan inspirasi kepada peserta yang datang.
Usai materi tersebut, giliran Achmad Ferdiansyah menyampaikan paparannya. Lelaki asal Blitar ini tentu tidak asing lagi bagi mahasiswa ITS khususnya. Gelarnya sebagai Pendekar 1000 PKM membawanya kepada kesuksesan yang terus menerus menghampiri. Sama dengan Rahmat, ia menceritakan suka duka menjadi mahasiswa.
Ferdi, sapaan akrabnya, mengaku bahwa dahulu ia mahasiswa yang rajin. Kepercayaan dirinya di ilhami dari sebuah film yang berjudul The Bilionaire. Film itu menceritakan seorang pemuda Thailand dengan usaha snack rumput lautnya hingga mencapai omset per hari sebesar milyaran rupiah. ”Dari kisah tersebut dapat diambil keputusan bahwa kesuksesan dapat dicapai dengan ketekunan dan kerja keras,” tuturnya.
Dua kata itu memang sangat sensitif bagi kalangan mahasiswa khususnya. Dimana rasa malas lebih dominan dalam kegiatan sehari-hari. Namun penjelasan Ferdi cukup membuka mata peserta bahwa menjadi mahasiswa merupakan kesempatan yang tidak semua orang miliki.
Selanjutnya, wacana dari Daniel M Rosyid yang juga merupakan dosen Teknik Perkapalan ITS, turut mengisi acara tersebut. Dalam kesempatan tersebut Daniel menjelaskan gambaran pendidikan kepemimpinan Indonesia pada abad ke-21.
Dimana keadaan pendidikan pada masa ini sangat menyenangkan. Mahasiswa mampu menyampaikan pendapat tanpa teknanan serta hubungan dengan pendidik yang mampu dijadikan sebagai tempat konsultasi yang hangat.
”Sekarang ini banyak sarjana muda yang berhasil namun tidak mau kembali ke daerahnya,” ujarnya. Sebagai contoh, Daniel menyebutkan seorang anak petani yang berhasil mejadi sarjana pertanian namun tidak tergelitik utuk mengembangkan apa yang ia miliki. Begitulah yang mengganggu pemandangan pendidikan di tanah air ini menurut Daniel.
Diskusi Dua Walikota
Antusias peserta seakan tak habis hingga gelombang kedua. Dalam diskusi gelombang kedua ini mengundang sosok pemimpin yang luar biasa, Ir Tri Risma Harini MT selaku Walikota Surabaya serta Ir Joko Widodo yang merupakan Walikota Surakarta yang cukup fenomeal.
Keduanya menjelaskan perjalanan masing-masing selama menjabat jadi walikota. Dengan tampilan presentasi, materi dijelaskan secara lengkap. Sedikit guyonan khas Jokowi mewarnai jalannya diskusi yang diikuti gelak tawa peserta.
Keduanya menyimpulkan bahwa kiprah seorang pemimpin begitu berpengaruh atas pandangan yang luas serta strategi yang dipilih dalam menjaga amanah. Dengan pengalaman nyata, keduanya menampilkan hasil strategi kepemimpinan berupa gambar perubahan keadaan masalah sosial. Seperti lingkungan daerah serta penghuni jalanan yang terasingkan. (lik/fz)