Orang sering tidak tahu bahwa kampus ITS Sukolilo ini adalah salah satu surga burung di Surabaya. Bahkan tempat-tempat biasa seperti belakang stadion dan hutan kampus Poltek adalah hotsite bagi para pecinta burung untuk melakukan aktivitas pengamatan (birdwatching).
â€ITS itu kalau boleh dibilang, salah satu harta karunnya Surabaya mas!,†ujar Ekho, ketua Pecuk. Ekho menambahkan jika hutan dan rawa ITS dibiarkan menghilang maka beberapa spesies burung akan terancam punah. Dari data yang sempat dihimpun oleh Pecuk selama 3 tahun menyimpulkan bahwa sembilan dari lima puluh dua jenis burung yang ada di ITS adalah dilindungi. â€Sangat mungkin jika ITS menjadi Kampus Hijau dan tempat konservasi burung Surabaya, ini sebuah investasi daerah,†ujar Ekho.
Selama ini sudah ada peringatan â€Dilarang Menembakâ€, yang dikeluarkan oleh BAUK di beberapa sudut ITS. Tetapi upaya itu tidak akan berjalan tanpa adanya fungsi edukasi yang terus-menerus. â€Ya percuma kalo cuma ditempel saja, harus ada pengarahan juga,†ujar Ekho. Selama ini kendala terbesar yang mengancam habitat burung di ITS adalah warga sekitar yang sering membuka lahan dengan membabat hutan kampus.
Selama ini Ekho hanya bisa mengkoordinir anggotanya untuk melakukan pengamatan setiap minggu. Bagi para pecinta burung liar, kegiatan pengamatan yang dinamakan birdwatching ini terasa begitu menyenangkan. Semacam rekreasi untuk melepaskan penat. Alat yang dibawa pun berupa buku panduan daftar burung MacKinnon yang tersohor itu dan seperangkat binokular sederhana. â€Kami juga turut mengajak mahasiswa ITS lainnya yang berminat dengan pengamatan burung liar,†ungkap Agus Satriyono, kepala ordo pengembangan Pecuk.
Saat ini Pecuk bukan lagi jago kandang. Jaringannya meliputi organisasi konservasi dan LSM lingkungan baik nasional maupun internasional. Salah satu jaringan Pecuk adalah Wetlands International. Lembaga menaruh perhatian besar pada konservasi habitat lahan basah. Bahkan kedekatan Pecuk dengan Wetlands International membuat dua anggota Pecuk diundang mengikuti pelatihan teknik survey pada tahun 2005.
Pada tahun 2007 Pecuk mengeluarkan sebuah direktori spesies yang habitatnya tersebar di kampus ITS Sukolilo. Agus Satriyono yang menjadi salah satu tim penyusunnya mengungkapkan jika katalog ini akan selalu dikembangkan beserta foto yang akan ditambahkan. Hanya saja, katalog yang berbentuk PDF ini masih belum tersebar luas di kalangan mahasiswa dan civitas ITS. â€Jumlah spesies burung yang ada di ITS tiap tahunnya menurun mas, seandainya ITS menjadi daerah konservasi nantinya diharapkan spesies yang tersisa dapat terlindungi,†harap Agus. (ap/rif)