
Sidoarjo, ITS News — Limbah daun jati yang selama ini hanya menjadi sampah organik kini disulap menjadi produk fashion ramah lingkungan oleh mahasiswa Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Inovasi tersebut diwujudkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) bertema Pemanfaatan Limbah Organo Nutritivum Jati (Tectona grandis) sebagai Eco Printing dalam Kerajinan Produk Fashion.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 30 – 31 Agustus 2025 lalu di Desa Suwaluh, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, dengan menggandeng 35 peserta dari Aisyiyah Balongbendo sebagai mitra. Peserta yang didominasi oleh para ibu rumah tangga tersebut selama ini belum memanfaatkan limbah daun jati secara optimal.

Sebanyak 20 mahasiswa Departemen Kimia ITS yang tergabung dalam KKN Abmas tersebut memanfaatkan 3 kilogram daun jati sebagai bahan utama proses eco printing. Melalui teknik pewarnaan alami ini, limbah daun diolah menjadi motif khas pada kain yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual.
Ketua Tim KKN Abmas Elsha Tri Lestari menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi wujud kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. Timnya ingin menunjukkan bahwa limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar. “Melalui eco printing, kami tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga mendorong masyarakat agar lebih kreatif dan mandiri dalam mengelola sumber daya di sekitarnya,” ujar mahasiswa Departemen Kimia ITS ini.

Rangkaian kegiatan KKN yang berada di bawah pendampingan dosen pembimbing Dr Triyanda Gunawan SSi ini diawali dengan penyuluhan mengenai konsep sustainable fashion dan pentingnya pengelolaan limbah organik. Selanjutnya, peserta mengikuti pelatihan pembuatan eco printing menggunakan metode steaming yang relatif sederhana dan aman diterapkan masyarakat.
Triyanda menegaskan bahwa program ini memiliki landasan ilmiah yang kuat. Menurutnya, dalam perspektif kimia, limbah merupakan sumber daya yang belum dioptimalkan. Daun jati memiliki kandungan senyawa alami yang potensial sebagai pewarna ramah lingkungan. “Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa sains dapat dihadirkan secara sederhana, aplikatif, dan mampu menciptakan nilai ekonomi berbasis keberlanjutan,” terang dosen Departemen Kimia ITS ini.

Selama pelatihan, peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari mengenali karakteristik daun jati, menata daun pada kain untuk membentuk motif, proses pengukusan (steaming), hingga tahap fiksasi warna. Pendampingan intensif dari mahasiswa KKN memastikan peserta mampu memahami dan mempraktikkan teknik tersebut secara mandiri.
Salah satu peserta dari Aisyiyah Balongbendo mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Ia menyebutkan bahwa daun jati yang sebelumnya hanya dibiarkan mengering dan dibuang, ternyata dapat menghasilkan produk yang cantik dan bernilai jual. “Kami jadi lebih termotivasi untuk mencoba mengembangkan usaha kecil dari kegiatan ini,” tuturnya.

Dari kegiatan tersebut, dihasilkan 30 produk eco printing yang berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk fashion dan kerajinan, seperti taplak meja, pakaian, jilbab, tas kain, dan aksesori tekstil. Secara estimatif, setiap produk memiliki nilai jual berkisar antara Rp50.000 hingga Rp150.000, sehingga total potensi nilai jual mencapai sekitar Rp1.500.000 hingga Rp4.500.000.
Melalui program ini, mahasiswa ITS berharap dapat menumbuhkan kreativitas masyarakat, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tambah. (*)