Kembali ke Dalam Diri Melalui Hari Raya Nyepi

Published on
By
Gambar Arak-arakan ogoh-ogoh sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi
Arak-arakan ogoh-ogoh sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi

Kampus ITS, Opini — Dalam ajaran Hindu, Hari Raya Nyepi bukan sekadar Perayaan Tahun Baru Saka. Melainkan momen penting untuk merefleksikan diri dengan spiritual selama 24 jam. Secara umum, Hari Raya Nyepi dapat dirasakan oleh semua orang untuk dimanfaatkan sebagai proses kembali ke dalam diri. 

Tidak seperti perayaan pergantian tahun baru yang identik dengan pesta dan kemeriahan, Hari Raya Nyepi menjadi waktu introspeksi diri dalam keheningan. Terdapat Catur Brata Penyepian yang dimaknai sebagai empat pantangan utama selama menjalani ritual Nyepi. Mulai dari tidak menyalakan api atau lampu (amati geni), tidak melakukan pekerjaan (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). 

Beberapa hari sebelum puncak kegiatan Nyepi, terdapat rentetan kegiatan yang harus dilakukan para pemeluk agama Hindu. Dimulai dengan Upacara Melasti yang bertujuan untuk pembersihan lahir, batin, dan alat-alat persembahyangan. Umumnya, upacara pembersihan tersebut dilakukan di pura yang berdekatan dengan sumber air, seperti laut, danau, atau sungai. Upacara ini diharapkan dapat memberikan kekuatan batin umat Hindu untuk melangsungkan Nyepi. 

Gambar Penutupan beberapa ruas jalan di Bali selama pelaksanaan Hari Raya Nyepi (sumber detik.com)
Penutupan beberapa ruas jalan di Bali selama pelaksanaan Hari Raya Nyepi (sumber: detik.com)

Setelah melaksanakan Upacara Melasti, umat Hindu akan melakukan Upacara Mecaru dan Pengerupukan guna menghilangkan unsur-unsur jahat yang ada di dalam diri. Upacara Mecaru bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam untuk menetralkan energi negatif menjadi positif. Di sisi lain, Upacara Pengerupukan dilakukan untuk mengusir bhuta kala yang merepresentasikan energi negatif. Tradisi tersebut ditandai dengan adanya arak-arakan ogoh-ogoh. 

Selain sebagai evaluasi diri di tahun sebelumnya, perayaan Tahun Baru Saka ini menjadi tonggak resolusi diri dalam menata rencana ke depan untuk mencapai tujuan hidup. Konsep tersebut dapat dianalogikan seperti vas bunga kotor dengan bunga layu yang telah dibersihkan dan diisi dengan air dan bunga yang baru untuk beberapa hari ke depan. Hari Raya Nyepi mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari perubahan diri sendiri. 

Dalam realisasinya, hari raya Nyepi mengajarkan bahwa disiplin dan pengendalian diri melalui pantangan-pantangan yang harus dilaksanakan. Filosofi ini bermakna bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada kesenangan eksternal, melainkan kesanggupan individu untuk mengendalikan diri dan hidup selaras dengan lingkungan sekitar. Rahajeng nyanggra rahina Nyepi Caka 1948. Dumogi sami rahayu. (*)

Ditulis oleh:
Ahmad Husein Al Qomary
Departemen Teknik Sistem Perkapalan
Angkatan 2024
Reporter ITS Online

 

×