"Ada lebih dari dua ribu tenaga pendidik di ITS dan masih belum percaya diri dengan Bahasa Inggris," ungkap Ketua IO ITS Dr Maria Anityasari ST ME PhD dalam sambutannya. Bahkan menurutnya beberapa ada yang belum berani berpendapat secara terbuka.
Untuk itu, Maria kembali menegaskan pada para peserta untuk meninggalkan zona nyaman. Salah satu cara yaitu berani bersuara dan menyampaikan aspirasi. "Mereka diharuskan untuk berdiskusi. Bila masih kesulitan menggunakan Bahasa Inggris nanti akan dibantu oleh tim kami," tukasnya.
Tak ketinggalan, Wakil Rektor IV Prof Dr Ketut Budha Artana ST MSc turut mengajak para peserta bekerja keras membangun kampus bereputasi internasional. "Internasionalisasi tidak cukup hanya dengan menggerakan mahasiswa semata, namun dosen dan karyawan juga harus dilibatkan," tegas mantan ketua IO ITS ini.
Menurutnya, IO ITS telah memberikan fasilitas untuk menunjang hal tersebut. "Namun visi tetap tidak akan terwujud bila tiap individu masih belum dapat menerima diri masing-masing," ujarnya mantap.
Terkait hal ini, IO ITS juga memfasilitasi program English day. Ketut menyebutkan, dengan cara sederhana yaitu mendaftarkan lembaganya pada IO, maka pihak IO akan memfasilitasi proses tersebut agar dapat berjalan optimal. Diantaranya adalah pemberian modul serta mendatangkan mahasiswa asing untuk berinteraksi bersama.
Secara khusus, Ketut juga mengungkapkan pentingnya peran karyawan ITS dalam mendukung internasionalisasi. "Yang menerima mahasiswa asing secara administrasi untuk pertama kali adalah karyawan. Otomatis kesan pertama yang diciptakan akan merepresentasikan institutusi kita," terangnya.
Karena seperti yang telah diketahui, ITS telah menggagas program staff intership di luar negeri. Menurut Ketut, dalam program ini mereka diberi kesempatan untuk belajar langsung dari berbagai universitas bereputasi internasional untuk kemudian diterapkan di ITS. "Target tenaga pendidik yang berangkat tahun ini adalah tiga puluh orang yang dibagi dalam dua gelombang," pungkasnya. (qi/pus)