Kakarobot, Inovasi Mahasiswa ITS sebagai Jembatan Teknologi bagi Daerah 3T

Published on
By
Danya Deluca (kiri) bersama Muhammad Azriel Rizqifadhiilah saat mempresentasikan inovasi Kakarobot pada ajang Hult Prize Indonesia di ITB

Kampus ITS, ITS News — Pesatnya perkembangan perangkat teknologi saat ini nyatanya belum terjangkau bagi anak-anak di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di Indonesia, karena sumber pembelajaran yang masih serba terbatas. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Magister Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) inovasikan alat peraga robotika tanpa layar untuk sekolah dengan akses teknologi terbatas bernama Kakarobot.

Inovasi tersebut diciptakan dan dikembangkan oleh Danya Deluca sebagai Chief Executive Officer (CEO) sekaligus penemu, bersama rekannya Muhammad Azriel Rizqifadhiilah. Deluca mengungkapkan bahwa rancangan Kakarobot ini berangkat dari kesulitannya dalam mempelajari dunia robotika saat duduk di bangku kuliah.

Prototipe Kakarobot yang dirancang oleh dua mahasiswa Program Magister Departemen Teknik Elektro ITS

Ia menilai bahwa kesulitan tersebut tentunya akan lebih berat dirasakan oleh anak-anak di wilayah 3T. “Dengan adanya robot edukasi yang sudah dilengkapi dengan sistem operasi internal, bisa menjadi pintu masuk untuk anak-anak mengenal teknologi dengan aksesibilitas tanpa gawai,” terangnya.

Lebih dari sekadar pengenalan perangkat, menurut Deluca, Kakarobot memfokuskan tujuannya pada penanaman pola pikir komputer dan logika pemecahan masalah secara sistematis. Dengan demikian, siswa daerah 3T sekalipun memiliki kesiapan mental dalam menghadapi disrupsi teknologi di masa mendatang. “Dengan bekal logika yang kuat, mereka diharapkan mampu bersaing dan meningkatkan taraf ekonomi di daerahnya masing-masing,” ungkap penerima Beasiswa Indonesia Maju itu.

Gambaran sistem operasi Kakarobot, IOTA

Pendekatan tersebut membuat Kakarobot dinilai mampu menjawab tantangan global sekaligus berpeluang pengembangan yang besar pada masa mendatang. Dengan membangun ketahanan atau resilience bagi generasi muda di daerah kurang maju, anak-anak di wilayah 3T tidak lagi hanya menjadi penonton kemajuan teknologi informasi.

Lebih lanjut, alumnus S1 Teknik Elektro ITS ini mengatakan, pemaparan materi pada robot rancangannya tersebut dikemas dengan interaktif dan menyenangkan. Teori robotika yang kompleks menjadi aktivitas eksploratif yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak secara natural.

Mahasiswa Program Magister Departemen Teknik Elektro ITS sekaligus penemu Kakarobot Danya Deluca (kiri) saat terima penghargaan sebagai Juara I pada Hult Prize Indonesia di ITB

Menariknya lagi, visi inklusi pembelajaran teknologi yang diusung oleh dua mahasiswa program magister ITS ini telah berhasil menyabet penghargaan pada ajang Hult Prize yang berlangsung di Institut Teknologi Bandung (ITB), 10 Mei 2026 lalu. Pada ajang tersebut, Kakarobot keluar sebagai pemenang yang akan mewakili Indonesia di panggung Hult Prize Global Final yang rencananya berlangsung di Inggris.

Inovasi cemerlang yang diciptakan oleh Deluca dan rekannya itu menjadi wujud dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Terutama perwujudan poin ke-1 tentang Tanpa Kemiskinan, poin ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-10 terkait Berkurangnya Kesenjangan. (HUMAS ITS)

 

Reporter: Syifa Rahmadina

×