Jelajah Ruang di Arsitektur Nusantara

Published on
By

Dibuka langsung oleh Ketua Jurusan Arsitektur Ir Purwanita Setijanti MSc PhD, Seminar Nasional yang membahas Arsitektur Nusantara ini, merupakan seminar kedua yang digelar oleh Jurusan Arsitektur ITS.

Selain untuk kembali berdiskusi mengenai Arsitektur Nusantara, seminar yang dihadiri kurang lebih 80 peserta dari kalangan praktisi dan mahasiswa ini juga bertujuan untuk saling sharing mengenai apa makna dari Arsitektur Nusantara. "Tentunya setelah 3 tahun menjelajah nusantara, para praktisi arsitek yang hadir disini memiliki sebuah ide ataupun pengalaman yang bisa dibagi-bagikan," ungkap Purwanita.

"Topik bahasan yang akan kita bahas hari ini adalah seputar konsep ruang di dalam Arsitektur Nusantara," tandas wanita yang berkacamata ini. Semoga akan menambah wawasan dan pengetahuan kita, Purwanita juga mengucapkan selamat berdiskusi dan berseminar kepada peserta.

Tampil sebagai pembicara utama pada seminar ini adalah Prof Ryadi Adityavarman MArch MSME, yang mengangkat materi Konsep Ruang Arsitektur Tradisi Budaya Barat. Materi yang disampaikan adalah bagaimana orang barat, memikirkan dan merumuskan ruang arsitektur. "Dalam Arsitektur Nusantara tidak perlu menemukan sesuatu yang baru, tapi bagaimana mengubah cara pandang terhadap karya arsitektur tersebut," ujar alumnus Universitas Parahyangan ini.

Pria yang 20 tahun menetap di Amerika Serikat ini juga menjelaskan secara esensial arsitektur itu adalah menciptakan seni ruang. "Meskipun dalam beberapa pandangan tokoh-tokoh arsitektur dunia sekalipun, konsep ruang antara ada dan tiada," tutur pria juga yang mendalami Antropologi dan Desain Interior ini. Karena pandangan tersebut, kadang para Arsitek dalam mengerjakan sesuatu kurang teliti untuk masalah konsep ruang, Ryadi menambahkan.

Mengenai Arsitektur Nusantara, Ryadi menjelaskan bahwasanya Arsitektur Nusantara sendiri sedikit banyak terpengaruh oleh Arsitektur Kolonial. "Di mana hal ini tidaklah perlu dikuatirkan karena, sesuatu yang bersifat alami dari bangsa ini seperti halnya Arsitektur Nusantara tidak akan pernah hilang dari setiap karya anak bangsa," ujar Ryadi. Tetapi dengan pengaruh Arsitektur Barat Modern tersebut, seharusnya menjadi penguat bagi Arsitektur Nusantara, lanjut Ryadi.

Untuk menambahkan kreasi dan kreatifitas, seharusnya Arsitektur tidak hanya berdiri sendiri, Ryadi melanjutkan. "Melainkan harus didukung dengan disiplin ilmu lainnya, seperti halnya filsafat, ataupun antropologi," ungkap Ryadi. Hal ini bertujuan agar memperkaya dan memperkuat makna pada setiap karya Arsitektur Nusantara.

Pernyataan dari Ryadi ini senada dengan Retno, salah satu peserta Seminar Nasional ini. "Saya setuju jika untuk memperkaya makna dalam karya arsitektur dibutuhkan hubungan yang erat dengan bidang lainnya," papar Retno yang juga dosen di Universitas 17 Agustus Surabaya ini. Retno yang juga sedang menempuh pendidikan S-3 di Jurusan Arsitektur ITS ini mengaku memadukan Arsitektur dengan seni tari yang digemarinya. (fn/mtb)

×