Dijumpai di kantornya, Dra Ismaini Zain M Si memaparkan mengenai jalur masuk baru, KS Papua yang dibuka tahun ini. Jalur masuk hasil kerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dengan pihak ITS ini dicanangkan dalam rangka mendukung terwujudnya program 1000 Doktor dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Sarjana-sarjana teknik sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pembangunan di seluruh pelosok negeri, khususnya di Papua.
”Sepuluh orang terpilih melalui proses seleksi yang dilakukan sendiri oleh Pemprov Papua,” jelas Ismaini. Mereka yang terpilih dari sekitar 23 peserta seleksi ini akan menempuh pendidikan S1 di kampus ITS. Seperti halnya jalur masuk Program Kemitraan dan Mandiri (PKM), sepuluh orang yang terpilih ini akan mendapat biaya pendidikan dan living cost hingga lulus dari pihak pemerintah.
Secara skematis, KS Papua tidak jauh berbeda dengan jalur masuk PKM. Hanya saja, calon mahasiswa dari Papua yang tersebar di seluruh universitas ternama di Pulau Jawa ini memiliki kewajiban untuk kembali ke daerah asal mereka di Papua, segera setelah menyelesaikan pendidikannya. Seperti program Kerjasama Kementrian Agama (KS Kemenag), mereka akan dipersiapkan untuk turut serta dalam program pembangunan di daerah asal mereka masing-masing. ”Bedanya, tidak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk mengikuti program sejenis Fast Track dan melanjutkan pendidikan tingginya,” imbuh Ismaini.
”Mereka diberi kebebasan untuk memilih jurusan masing-masing sesuai minat dan keinginan,” ujar Kepala Bagian (Kabag) Akademik ITS ini. Pilihan jurusan tersebut antara lain Jurusan Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Geomatika, Teknik Kelautan, Teknik Elektro, Teknik Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), dan Matematika. Seluruhnya disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan di Papua dan sekitarnya.
Diakui oleh pihak birokrasi, calon mahasiswa dari Papua sebenarnya membutuhkan program matrikulasi sebelum memulai perkuliahan. Hal ini berkaitan dengan kondisi sosial kebudayaan yang berbeda antara daerah asal mereka dengan lingkungan yang baru. ”Namun, karena program yang terbilang bau, untuk tahun ini hal itu belum dapat dilaksanakan,” tandas dosen Jurusan Statistika ini.
Meski demikian, pihak ITS tidak terlalu khawatir. Hal ini karena para mahasiswa baru dari Papua ini sempat menjalani setahun masa belajar di Jakarta sebelum melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dibimbing langsung oleh pembina Olimpiade Fisika Internasional Indonesia, Yohanes Surya, para mahasiswa baru ini memiliki bekal untuk belajar di lingkungan yang baru, termasuk di kampus ITS.
Mereka akan diperlakukan sama dengan mahasiswa baru lainnya yang berasal dari berbagai daerah. Demikian pula untuk proses kaderisasi, tidak akan ada pengecualian. Dalam pelaksanaannya, ITS sebagai lembaga pendidikan akan melaporkan segala perkembangan mahasiswa asal Papua ini kepada pihak pemprov.
Program ini merupakan langkah serius dari Pemprov Papua untuk menggalakkan pembangunan di provinsi paling timur Indonesia ini. Bukan hanya ITS, berbagai perguruan tinggi mulai dari Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung juga turut serta mendukung program ini. Program ini diharapkan mampu menjadi inisiator pemerataan pembangunan di Indonesia. (ken/fi)