ITS Tembus Laga Final KJI

Published on
By

Dengan modal nekat, mereka akhirnya coba-coba mendesain jembatan lewat software Structure Analysis Program (SAP). “Kebetulan ada anggota yang mahir memakai SAP,” ungkap Prayogi Purna Pandhega, salah satu anggota Tim Mahagama.

Dari rancangan lewat SAP inilah mereka mampu mengetahui analisa kekuatan dari beragam model jembatan. Akhirnya dipilihlah model jembatan delapan segmen dengan konstruksi rangka batang. “Dari analisa lewat SAP, kami dapatkan bahwa model ini lebih kuat daripada model lain,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Pra.

Dalam kompetisi KJI 2010 terdapat tiga kategori yang dilombakan yakni kategori jembatan baja, jembatan kayu dan jembatan bentang panjang. Untuk kategori jembatan kayu, setiap peserta diharuskan merancang jembatan berbahan dasar kayu dengan panjang 16 x 3 meter dengan ketinggian 3 meter. “Sedangkan model yang harus dibuat berukuran 4 x 0,7 meter dengan tinggi 0,5 meter,” kata mahasiswa asli Surabaya ini.

Tim yang juga digawangi oleh Deni Ervianto, Diggy Afrizal dan Lina Febrianti ini tidak bisa sembarangan menentukan konstruksi dan bahan yang akan digunakan. Selain kekuatan, juri juga akan menilai aspek keindahan, estetika dan biaya. Untuk kekuatan, model jembatan akan diuji dengan dikenakan beban seberat 250 kg pada bagian seperempat, setengah dan tiga perempat panjang. “Defleksi maksimum yang diijinkan oleh juri hanya sebesar 1 cm saja,” imbuhnya.

Untuk menekan biaya pembuatan, Tim ini memilih jenis Kayu Kamper yang diyakini kuat dan murah. Selain itu, jenis kayu ini mudah didapatkan di pasaran. Sedangkan sambungan yang dipakai menggunakan sambungan plat sesuai dengan ketentuan penyelenggara. “Berat total kayu maksimal 76 kg sedangkan untuk sambungan plat maksimal 6,5 kg. Untuk berat total jembatan tidak boleh lebih dari 125 kg,” ulas Pra.

Lebih lanjut, Pra memaparkan bahwa saat ini tim Mahagama masih  dalam tahap pembuatah proposal sponsorship. Hal ini dikarenakan pihak penyelenggara hanya menyediakan biaya akomodasi dan penginapan. Sehingga biaya pembuatan model yang ditaksir mencapai puluhan juta, harus ditanggung finalis sendiri. “Buat ITS, kami sangat berharap bisa difasilitasi,” ulasnya.

Dalam final yang akan digelar selama dua hari mulai 6 September 2010 mendatang di Politeknik Negeri Jakarta, tim ini optimis mampu meraih gelar. “Kami sangat optimis. Apalagi tahun kemarin, Sipil ITS juga meraih juara 3 nasional,” pungkasnya. (hoe/az)

×