ITS Siap Kawal Hilirisasi Teknologi dan Kemandirian Bangsa

Published on
By
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD (kanan) dan Rektor UNAIR berjabat tangan dengan Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD (kanan) dan Rektor UNAIR berjabat tangan dengan Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia

Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyatakan kesiapannya untuk mengubah riset akademik menjadi inovasi nyata guna mendukung strategi kemandirian ekonomi, energi, dan pangan nasional. Komitmen tersebut merespons arahan Presiden RI serta jajaran menteri dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis (27/6). 

Melalui pertemuan tersebut, Presiden mendorong perguruan tinggi menjadi motor penggerak utama dalam menyelesaikan berbagai tantangan pembangunan. Hal itu berdasar pada penilaian bahwa kampus memiliki posisi strategis untuk melahirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

ITS melalui rencana strategisnya telah menyelaraskan arah gerak institusi dalam mendukung setiap cita-cita bangsa. Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menuturkan bahwa riset perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai prestise akademik di laboratorium. “Setiap inovasi yang dikerjakan harus memberikan dampak ekonomi konkret yang berpihak pada kepentingan rakyat,” terang Bambang.

Keselarasan tersebut disiapkan untuk memupuk kemampuan Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Indonesia wajib memperkuat ketahanan nasional melalui penguasaan teknologi serta peningkatan produktivitas sumber daya domestik secara mandiri.

Wakil Rektor II bidang Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana ITS Dr Machsus ST MT menilai ITS telah mempersiapkan diri dalam mendukung kemandirian bangsa. Sektor energi menjadi salah satu fokus utama dalam mewujudkan kedaulatan bangsa melalui penghentian ekspor komoditas mentah. “Di ITS kami telah mengembangkan berbagai inovasi terkait energi, seperti yang baru-baru ini ada inovasi Bensin dari kelapa sawit mentah yang kami sebut Benwit,” terang Machsus. 

Seperti halnya yang disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang memaparkan program B50 berbasis kelapa sawit dan E20 berbasis tebu guna menekan angka impor bahan bakar secara signifikan. Selain itu, pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik serta hilirisasi nikel untuk menciptakan nilai tambah yang besar bagi sektor manufaktur. 

Penguatan ekonomi tersebut didukung penuh oleh kebijakan investasi yang terarah pada pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani menambahkan bahwa target investasi nasional periode 2025–2029 dipatok mencapai Rp 13.032 triliun. Keberhasilan hilirisasi ini juga diperluas ke sektor non-mineral seperti pertanian dan perikanan demi menciptakan lapangan kerja baru yang lebih inklusif.

Pemerintah juga menyediakan berbagai insentif fiskal khusus bagi perusahaan yang aktif berkolaborasi dengan perguruan tinggi dalam kegiatan penelitian. Langkah ini bertujuan untuk menjembatani hasil riset kampus agar tidak sekadar menjadi publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi produk komersial di pabrik. Kolaborasi erat antara dunia akademik dan sektor industri dinilai menjadi kunci utama untuk mendongkrak daya saing global Indonesia.

Jajaran pimpinan dan anggota MWA ITS bersama dengan Kepala BP BUMN sekaligus CEO Danantara  Dony Oskaria (kelima dari kiri)
Jajaran pimpinan dan anggota Majelis Wali Amanat (MWA) ITS bersama dengan Kepala BP BUMN sekaligus CEO Danantara Dony Oskaria (kelima dari kiri)

Sejalan dengan agenda tersebut, BPI Danantara mengajak kampus masuk ke jantung hilirisasi melalui penguasaan desain dan rekayasa manufaktur. Chief Technology Officer Danantara Dr Sigit Puji Santoso mendorong penerapan pendekatan Technology Readiness Level agar prototipe laboratorium siap diproduksi secara massal. Untuk mempercepat proses industrialisasi, Danantara memperkenalkan konsep triangle offense yang menyinergikan peran strategis perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, dan sektor industri.

Saat ini, Danantara telah menetapkan lima sektor prioritas nasional yang mencakup energi, pangan, mineral, transportasi, serta pertahanan. Pengembangan teknologi semikonduktor dan kecerdasan buatan menjadi agenda mendesak yang membutuhkan dukungan talenta unggul dari kampus. Perguruan tinggi pun diharapkan terlibat sejak tahap awal proyek strategis nasional, mulai dari studi kelayakan hingga implementasi teknologi di lapangan.

Sementara itu, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menekankan pentingnya transformasi BUMN yang terintegrasi dengan ketahanan pangan nasional. Pembentukan Koperasi Desa dioptimalkan sebagai pusat distribusi, penyedia bibit, dan akses permodalan terjangkau bagi para petani demi memutus rantai pasok yang merugikan. Transformasi ini disempurnakan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia lewat program pemenuhan gizi dan pendidikan bermutu.

Merespons seluruh arah kebijakan strategis tersebut, ITS menyatakan kesiapan penuh sebagai mitra teknologi utama yang akan mengawal industrialisasi nasional. Melalui sinergi lintas sektor yang tangguh ini, inovasi dari kampus perjuangan diharapkan mampu menjadi kontribusi nyata yang mendunia bagi kemandirian Indonesia. “ITS siap mengubah riset menjadi inovasi untuk mendukung kedaulatan industri dan kesejahteraan rakyat,” ujar Machsus sebagai salah satu delegasi ITS. (*)

 

Reporter: Syifa Rahmadina
Redaktur: Syahidan Nur Habibie Ash-shidieq

×