ITS Perbanyak Tiga Gubes Lagi

Published on
By

Kali ini yang akan dikukuhkan sebagai guru besar adalah dari Jurusan Teknik Elektro Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT dan Prof Ir Mochamad Ashari MEng PhD, keduanya ahli bidang kelistrikan. Sedang satu lagi dari Jurusan Fisika FMIPA adalah Prof Dr Bagus Jaya Santosa sebagai ahli bidang geofisika.

Sebagai ahli di bidang klistrikan, Mochamad Ashari yang juga Ketua Jurusan (Kajur) Teknik Elektro menyampaikan bahwa sekarang sedang mengembangkan teknologi untuk reneweble energy, yang memanfaatkan energi angin dan matahari untuk skala perumahan. ”Ke depan masyarakat bisa menjual listrik ke PLN dari solar sel atau kincir angin,” jelas Ashari dalam jumpa pers di Rektorat ITS, Senin (30/11).

Ashari menjelaskan bahwa potensi energi angin dan matahari di Indonesia sangat besar, pemanfaatan dengan membangun pembangkit listrik skala rumah akan membantu memenuhi kebutuhan listrik di masyarakat.

Sementara itu, Adi Soeprijanto sedang mengembangkan software untuk sistem kontrol produksi listrik, software tersebut bisa memantau generator atau pembangkit yang kelebihan beban, dan memberikan instruksi kepada operator di lapangan. Selain itu, software ini juga bisa memantau transmisi listrik dalam skala besar. “Yang kita kontrol nantinya yang dalam skala besar, satu pulau atau antar pulau,” jelas Adi.

Adi menyampaikan selama ini software yang digunakan buatan luar negeri, dan harganya mahal. ”Software yang kita buat lebih sederhana dan bisa menggabungkan dengan software yang berasal dari luar,” jelasnya. Selain itu, lanjut Adi, software ini juga bekerja untuk memantau efisiensi, sehingga bisa menjadikan biaya produksi listrik menjadi lebih murah.

Berbeda dengan Ashari dan Adi, Bagus Jaya Santosa merupakan ahli bidang geofisika. Riset yang dikembangkannya mampu membuktikan fakta-fakta baru mengenai model bumi. Bagus menyampaikan selama ini penelitian seismografi kebanyakan hanya menggunakan gejala horisontal, atau pergeseran ke samping saja. Sementara metode yang dia kembangkan menggunakan seismogram tiga dimensi secara berkesinambungan, yang akan memberikan data lebih teliti terkait kondisi dari lapisan yang ada di bumi.

“Dengan metode ini kita bisa memprediksi lokasi yang kemungkinannya akan terjadi gempa, dan bisa memprediksikan lebih teliti kemungkinan terjadnya tsunami karena gempa, dan ini lebih baik dari BMKG,” jelas Bagus.(ims/nda)

×