ITS Lobi ILO Latih Mahasiswa Berwirausaha

Published on
By

Hal ini disampaikan oleh salah satu dosen yang juga anggota tim Kelompok Kerja Technopreneur ITS, Ir Lantip Trisunarno MT saat ditemui ITS Online Senin (4/4) di café SCC. Dosen Teknik Industri ini mengungkapkan bila saat ini ITS sudah harus mempersiapkan mahasiswa yang lolos seleksi untuk memahami bagaimana memulai bisnis.

Sebanyak 34 judul rencana usaha sudah disepakati untuk mendapat pinjaman modal oleh Ditjen pendidikan tinggi (Dikti). Kurang lebih pinjaman tersebut mencapai total 700 juta dengan batas pengembalian pinjaman selama dua tahun.

Untuk itu, dirinya dan ITS tengah melobi badan PBB ILO untuk dapat memberi pelatihan bagaimana cara memulai sebuah bisnis. ”Senin (4/5) ini saya kirim email untuk memastikan jadwal pelatihan. Bila deal, Jumat ini akan ada technical meeting bagi para peserta dan langsung akan ada pelatihan Sabtu dan Minggu,” jelas Lantip yang mengatakan bila pelatihan ini akan diadakan empat hari tanggal 9 dan 10, serta tanggal 23 dan 24 Mei.

Materi pelatihan yang rencananya akan diberikan adalah pengenalan dan pendalaman membuat rencana bisnis seperti rencana pemasaran, cara penelitian pasar dan mengubah cara pandang mahasiswa akan pentingnya berwirausaha. “ILO juga akan menilai keyakinan tiap individu untuk memulai usaha,” jelasnya.

Menurut lantip, yang menarik dalam pelatihan ini nantinya mahasiswa akan diajarkan bagaimana membuat rencana keunganan seperti rencana arus kas atau cash flow. “Tak banyak jurusan di ITS yang mengajarkan materi ini,” jelas Lantip yang berpendapat bila pengetahuan seperti ini amatlah penting dalam perencanaan sebuah bisnis.

Kompetisi bisnis plan ini sendiri adalah kerjasama ITS dan Dikti sebagai peminjam modal tanpa bunga. Dari program ini diharapkan tumbuh semangat mahasiswa berwirausaha. Kelompok Kerja Technopreneur mengaku kepercayaan Dikti pada mahasiswa ini adalah sebuah amanah besar.

Mengakhiri pembicaraan, Lantip berpesan bila amanah tersebut seharusnya juga disadari oleh mahasiswa. ”Bandingkan dengan para pedagang kaki lima yang kesulitan mendapat pinjaman modal, bahkan ada yang sampai meminjam dengan bunga tinggi pada rentenir. Tapi mereka punya semangat wirausaha,” pungkas Lantip yang berharap mahasiswa juga bisa meneladani semangat wirausaha pedagang kecil untuk membuat lapangan pekerjaan. (yud/mtb)

×