ITS Hadirkan Teknologi SWRO Portabel untuk Atasi Krisis Air Bersih di Pulau Mandangin

Published on
By
Mahasiswa ITS memberikan penjelasan dan mendemonstrasikan cara kerja SWRO portabel kepada mitra pengabdian masyarakat di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang, Madura

Sampang, ITS News — Sebagai wujud kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir, tim dosen dan mahasiswa Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) menghadirkan inovasi teknologi desalinasi air laut berbasis Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) portabel di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Inovasi ini dirancang untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih secara mandiri, berkelanjutan, dan hemat energi.

Pulau Mandangin selama bertahun-tahun menghadapi krisis air bersih akibat keterbatasan sumber air tawar, intrusi air laut, serta tidak berfungsinya instalasi SWRO sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat bergantung pada air hujan dan pasokan air dari daratan dengan biaya yang relatif tinggi. Melihat permasalahan ini, tim Abmas Departemen Teknik Fisika ITS menghadirkan solusi teknologi yang adaptif dan mudah dikelola oleh warga setempat.

Tim Abmas ini merancang dan meng-install sistem SWRO portabel yang mampu mengolah air laut menjadi air bersih layak konsumsi. Sistem ini bersifat modular, menggunakan daya listrik rendah, serta dirancang agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat lokal. Tahapan kegiatan meliputi survei kebutuhan, fabrikasi unit, hingga pengujian performa alat baik di laboratorium maupun di lapangan.

Penyerahan alat kepada mitra abmas ITS, yakni Pondok Pesantren Al–Hasaniyah di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang, Jawa Timur

Ketua tim pengabdian Prof Totok Ruki Biyanto ST MT PhD menjelaskan bahwa hasil pengujian menunjukkan bahwa teknologi SWRO ini mampu menurunkan kadar Total Dissolved Solids (TDS) air laut dari sekitar 8.480 ppm menjadi rata-rata 680 ppm. Selain itu, sistem ini memiliki tingkat penolakan (rejection rate) hingga 92 persen dengan debit air bersih mencapai 1,66 liter per menit. “Berdasarkan standar WHO, kualitas air hasil olahan ini tergolong kategori fair dan aman digunakan untuk kebutuhan konsumsi harian,” papar Totok.

Tidak hanya berfokus pada aspek teknis, lanjut Totok, program ini juga menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat. Tim ITS memberikan pelatihan kepada warga terkait pengoperasian, perawatan, serta pemantauan kualitas air secara mandiri. “Pendekatan partisipatif ini memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengelola teknologi air bersih di lingkungannya,” ujarnya.

Tim ITS melakukan pengujian sekaligus mempraktikkan pengoperasian SWRO portabel bersama mitra pengabdian masyarakat di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang, Madura

Totok menyampaikan bahwa penerapan SWRO portabel ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian air bersih bagi masyarakat Pulau Mandangin. “Kami berharap teknologi ini dapat menjadi solusi berkelanjutan yang tidak hanya menyediakan air bersih, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk mengelola sumber daya air secara mandiri,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa teknologi SWRO portabel memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai pulau kecil lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam penyediaan air bersih. Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. (*)

×