
Kampus ITS, ITS News — Memperingati Hari Cahaya Internasional, Himpunan Optika Indonesia (HOI) didukung oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar Sarasehan Nasional 2026, Sabtu (16/5). Kegiatan ini hadir dalam rangka menyusun dokumen Buku Peta Jalan Optika Indonesia 2026–2030 guna mewujudkan kemandirian teknologi.
Diadakan secara daring, forum diskusi ini menjadi ruang pertemuan antara para pakar optika dan fotonika seluruh Indonesia untuk memetakan kapasitas riset optika nasional. Pemetaan tersebut meliputi ketersediaan ahli, fasilitas laboratorium, dan rekam jejak riset unggulan dari berbagai institusi. Nantinya, hasil pemetaan ini akan menjadi bahan utama dalam penyusunan dokumen strategis Buku Peta Jalan Optika Indonesia 2026–2030.
Wakil Rektor IV bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian Prof Agus Muhamad Hatta ST MSi PhD menekankan pentingnya sinergi peneliti dalam peningkatan ekonomi berbasis IPTEK. Sebagai Ketua HOI, Agus percaya bahwa riset cahaya dapat menjadi solusi nyata bagi masa depan kemandirian teknologi Indonesia. “Kolaborasi adalah kunci utama,” tegasnya.
Forum ini turut menghadirkan jajaran perguruan tinggi lainnya seperti IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB) dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, hadir pula narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Setiap institusi memaparkan portofolio riset yang berisi profil tim peneliti, fokus riset, fasilitas, dan rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan.

Paparan dari berbagai institusi ini menunjukkan adanya relevansi yang kuat antara riset perguruan tinggi dengan upaya penyelesaian isu strategis nasional dan delapan industri strategis. Bidang yang menjadi fokus meliputi pangan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, digitalisasi, manufaktur material maju, dan hilirisasi industri. “Riset perguruan tinggi pun diharapkan dapat membawa peningkatan bagi pembangunan nasional,” tutur Agus.
Berpegang pada ekosistem riset yang solid, HOI pun berharap mampu menjembatani jalur hilirisasi dari pengetahuan menjadi dampak nyata bagi produktivitas masyarakat. Luaran riset yang dihasilkan nantinya tidak akan berakhir sebagai publikasi ilmiah semata. Sebagai rencana tindak lanjut, rangkaian penyusunan dokumen strategis ini akan dilanjutkan melalui agenda Workshop Strategis pada Juli 2026 mendatang.
Melalui perumusan Buku Peta Jalan Optika Indonesia 2026–2030, HOI bersama ITS dan berbagai perguruan tinggi lainnya berkomitmen untuk mengorkestrasi riset optika agar lebih tepat sasaran. Forum ini juga diharapkan mampu memperkuat jejaring kolaborasi antar institusi dalam pengembangan riset dan inovasi. Upaya tersebut menjadi wujud komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas. (*)
Reporter: Syifa Rahmadina
Redaktur: Putu Calista Arthanti Dewi