Dua mahasiswa yang menjadi kandidat Calon Presiden BEM (Capresbem) ITS adalah Arfiq Isa Abdillah dan Rofi Arga. Kedua mahasiswa ini berasal dari fakultas yang sama, yaitu Fakultas Teknologi Industri. Arfiq berasal dari Jurusan Teknik Fisika, sedangkan Rofi dari Jurusan Teknik Kimia.
Disinggung mengenai pendapatnya terhadap kedua calon, Imran Ibnu Fajri mengatakan ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Capresbem. "Dari kaca mata saya, persiapan mereka sangat kurang dalam mengikuti kontestasi ini, karena ke depan, tantangan yang mereka hadapi akan jauh lebih besar," ungkapnya.
Dalam menghadapi banyaknya tantangan ke depan, Fajri menyarankan Presbem yang dipilih oleh KM ITS tidak cukup hanya memiliki visi dan misi saja, melainkan juga menitikberatkan pada strategi teknis dan adaptif. "Menurut saya minimal memiliki tiga karakter, yaitu adaptif, fokus pada capaian, dan mampu memanfaatkan pengaruhnya untuk mendinamisasi kampus," katanya.
Menurut mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan ini, adaptif berarti ketika menemui ketidakidealan harus dapat memutar otak untuk menyelesaikan atau setidaknya mampu mencapainya. Selain itu juga harus fokus pada capaian yang ditegaskan, yang didukung dengan kesiapan konsep. ”Apabila tidak fokus pada hasil yang ingin dicapai, maka akan terlihat bingung bagaimana mengelola masalah, momentum, dan lain-lain," tuturnya.
Baginya, siapa pun yang terpilih, harus mampu memberikan pengaruh baik bagi KM ITS. Dalam memberikan pengaruh baik, kata Fajri, tidak melulu dalam hal bagaimana membuat kampus ini dinamis, tetapi juga mencerdaskan dan mengajak KM ITS untuk memikirkan ITS dan Indonesia. "Karena kamu itu Presiden BEM ITS, bukan customer service,” tegasnya.
Menulis: Meninggalkan Jejak
Ditemui terpisah, Novangga Ilmawan, Presbem ITS 2015-2016 memiliki pendapat yang berbeda terhadap kedua Capresbem. Keduanya, kata Novangga, memiliki tagline yang hampir sama, yaitu Wahana Juang dan Bara Juang. "Ini adalah kali
pertama tagline-nya hampir sama. Menurut analisis saya, mungkin KM ITS selama ini daya juangnya kurang, jadi mereka ingin membangkitkannya," ungkapnya.
Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ini mengaku, di era keterbukaan informasi menulis adalah hal yang wajib. Untuk itu, ia berpesan dengan menuliskan berbagai informasi untuk KM ITS, maka BEM ITS bukan hanya dimiliki oleh jajaran presidium saja.
”Pengalaman saya selama satu tahun kepengurusan, banyak yang mempertanyakan bagaimana kerjanya BEM ITS. Dengan menulis melalui akun resmi dan website, kami dapat mengenalkan BEM ITS dan menjaga komunikasi dengan mereka," ujarnya.
Baik Fajri maupun Novangga, keduanya memiliki pesan yang sama untuk KM ITS yang akan mengikuti pesta demokrasi. Mereka mengajak KM ITS untuk memilih tidak berdasarkan latar belakang, melainkan kebutuhan dan kegelisahan yang dialami. "Mohon totalitas. Karena dari sekian ribu mahasiswa ITS angkatanmu, hanya satu yang bisa menjadi Presbem ITS, Menteri PSDM, dan menteri-menteri lainnya," yakinnya mantap. (ifa/mis)