Ini Cara ITS Hadapi AEC 2015

Published on
By

Radita Ahadunnisa mengatakan tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah Persiapan ITS Menuju ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Ia menambahkan acara ini digelar dengan tujuan memberikan rekomendasi sekaligus evaluasi kebijakan ITS dalam satu tahun ini. Apalagi, lanjutnya, hal ini terkait dengan persiapan para calon Rektor (carek) ITS memimpin kampus perjuangan dalam menatap AEC 2015 ke depannya. "Sehingga, ini merupakan tema yang penting terkait hal apa saja yang telah dilakukan ITS selama ini," ungkap Sekretaris Kementerian Dagri BEM ITS ini.

Lebih lanjut, acara ini turut menghadirkan beberapa tokoh penting di ITS dalam menyongsong gong AEC 2015. Diantaranya adalah Maria Anityasari ST ME PhD, Ketua International Office ITS dan empat carek ITS. Yakni Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD, Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT, Prof Ir Eko Budi Djatmiko MSc PhD, dan Prof Dr Ing Ir Herman Sasongko.

Dalam pelaksanaanya, Maria menjelaskan ITS sebagai perguruan tinggi negeri harus menyiapkan strategi khusus guna menghadapi momen penting ini. Salah satunya dengan memberikan pengetahuan seputar AEC 2015 kepada sivitas akademika ITS melalui serangkaian workshop atau seminar. Selain itu, diperlukan program pembelajaran bahasa asing untuk mahasiswa ITS guna menunjang kemampuan mereka, terutama dalam hal berbahasa Inggris. "Tidak bisa dipungkiri kemampuan berbahasa Inggris merupakan faktor utama saat AEC 2015 berlangsung," jelasnya.

Ia mengaku instansi yang dipimpinnya pun telah melakukan beberapa hal guna membantu ITS menyiapkan diri menghadapi AEC 2015. Diantaranya dengan menggelar beberapa program yang dapat diikuti oleh seluruh elemen di ITS. Seperti Community and Technological (CommTECH) Camp, Student Exchange, ITS Students Internationalization Project (ISIP), dan Studi Ekskursi.

Hal senada diungkapkan oleh Adi Soeprijanto. Salah satu carek ITS ini meyakini diperlukan kualitas pendidikan dan akademisi yang baik untuk menghadapi AEC 2015. "Kemampuan berbahasa asing khususnya bahasa Inggris merupakan kemampuan yang harus dikuasai para akademisi," tuturnya.

Dalam persiapannya, Adi memaparkan, permasalahan struktural dalam pendidikan harus segera dibenahi. Salah satunya adalah dengan meningkatkan infrastruktur dan akreditasi pendidikan. Pasalnya, selama ini banyak lembaga pendidikan yang belum meningkatkan akreditasinya. Padahal, akreditasi merupakan salah satu cara bagi pendidikan Indonesia agar mampu bersaing di kancah internasional.

Adi melanjutkan, ke depan pihaknya akan melakukan revolusi di bidang pendidikan khususnya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa ITS. "ITS harus mempunyai program khusus berbahasa Inggris bagi para mahasiswa," jelasnya.

Berbeda dengan carek lainnya, menurut Herman Sasongko untuk menghadapi AEC diperlukan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Seperti meningkatkan standar pendidikan nasional menjadi internasional. "Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas akademisi dalam erasar bebas ini," papar Guru Besar Jurusan Teknik Mesin ITS ini.

Joni Hermana, carek ITS lainnya turut memberikan pendapatnya terkait persiapan ITS menghadapi AEC 2015. Menurutnya, memberikan pengetahuan mengenai AEC 2015 kepada mahasiswa secara komperhensif merupakan cara yang terbaik. Serupa dengan Joni, Eko Budi Djatmiko pun menambahkan bahwa mahasiswa harus diberi pemahaman terlebih dahulu mengenai AEC 2015. ”Agar mereka paham mengenai konsep dan tujuan diberlakukannya AEC 2015,” tambahnya.

Diakhir, Radita juga mengharapkan agar birokrasi ITS dapat segera membuat kebijakan khusus terkait AEC 2015 dan melakukan sosialisasi atas kebijakan-kebijakan tersebut. "Selama ini euforia mengenai AEC 2015 kurang terasa. Oleh karena itu, dibutuhkan sosialisasi yang tepat terkait masalah ini," pungkasnya. (sho/man)

×