Dalam paparannya, Ario mengatakan bahwa salah satu penyebab runtuhnya agama Islam adalah jika kebodohan menyebar pada kaum muslim. Tak hanya itu, kemalasan dalam menuntut ilmu juga menjadi salah satu faktornya. "Jika kita malas menuntut ilmu, maka pikiran kita akan stagnan pada satu pemikiran itu saja dan tidak akan bisa berubah," ujarnya.
Menurut Ario, ada enam adab dalam hal menuntut ilmu. Yang pertama adalah menjauhi maksiat. Ia juga menjelaskan, dengan menjauhi maksiat maka seseorang akan semakin mudah dalam memahami dan mengamalkan ilmu tersebut. "Jika jauh dari maksiat kita akan lebih dekat dengan Allah," ujar pria yang juga seorang dosen di Universitas Narotama tersebut.
Adab yang kedua adalah menjauhi dan berusaha tidak terikat dengan dunia-dunia yang dapat melalaikan pikiran. Seperti game, facebook, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat membuang waktu. Ketiga, selalu mematuhi apa yang disampaikan oleh guru maupun dosen yang sedang mengajar. "Meskipun kalian lahir zaman sekarang dengan mode yang berbeda, tetap hormatlah kepada gurumu," tutur Ario.
Adab yang harus diperhatikan selanjutnya adalah ikhlas dalam menuntut ilmu, menghargai dan mampu menyikapi pendapat orang lain. Sedangkan yang terakhir, ilmu yang sudah didapat harus selalu diamalkan.
"Jika Albert Einsten bisa menjadi ilmuwan dan penemu yang hebat, maka kita harus rebut itu," tegas Ario yang sontak membuat peserta PSI 1 semakin penasaran dengan apa maksud dari kata-kata tersebut. Menurut Ario, jika ada setitik ilmu pengetahuan yang saat ini dimiliki oleh orang non muslim, maka sejatinya ilmu tersebut wajib dimiliki oleh umat muslim. Bahkan, harus lebih baik.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan dan saling berbagi tips-tips untuk bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat dan untuk meraih kesuksesan. Menurutnya ada enam pula yang harus dilakukan. Yakni, mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa dan pikiran dari segala sesuatu yang bersifat pesimis, serta tidak asyik sendiri. "Jika sudah merasa pintar jangan asyik sendiri, bagi ilmu itu kepada orang lain," kata Ario.
Selain ketiga hal tersebut, ketiga tips lain yang diberikan Ario adalah membangun semangat keislaman di dalam diri masing-masing. Contohnya dengan aktif di Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ), JMMI, dan aktif di kegiatan islami lainnya. Selanjutnya, harus rajin-rajin berkumpul bersama untuk membangun peradaban. "Yang terakhir adalah harus mampu menyeimbangkan waktu," tambahnya.
Untuk menyeimbangkan waktu, Ario menyarankan, setiap hari harus ada penjadwalan kegiatan dengan teratur dan harus bisa memanajemen waktu dengan baik. "Jika tidak ada menajemen waktu dengan baik, maka saya jamin kualitas hidup anda tidak akan baik," tegasnya.
Seperti trainer-trainer lainnya, ia juga menyarankan untuk menuliskan segala mimpi dalam sebuah kertas. Agar mimpi itu tidak mustahil untuk dicapai, Ario juga menambahkan bahwa mimpi yang harus ditulis adalah mimpi yang lebih spesifik. Selain itu, proses serta rentang waktu untuk bisa meraih mimpi tersebut juga harus dituliskan.
Menurutnya, mimpi tanpa perencanaan yang baik akan menimbulkan penyesalan dan sakit yang mendalam. Oleh karena itu, ia menjelaskan bahwa proseslah yang menjadi sesuatu yang sangat penting. Karena jika ada proses pasti ada hasil, meskipun itu belum maksimal. "Maka, kita harus yakin. Dekat dan cinta kepada Allah dan Rasul akan mengalahkan segala perasaan yang kita alami dan ketidakmampuan yang kita miliki," pungkas Ario dengan tersenyum. (guh/esy)